Minggu, 12 Agustus 2012

With You Always Ending

Hari demi hari dilewati dengan bahagia baik Rendi atau Luna, dimanapun jua hanya ada canda tawa, terkadang pendonor misterius pun terlupa sesaat. Meski sempat Luna ingin menghentikan pencarian. Tapi Rendi begitu bertekat bulat. Yang benar-benar terlupa tentu Alvin, tanpa kabar jauh pula batin Luna.
Ujian yang telah berlalu membanggakan mereka, dapat se-kampus pun sudah di depan mata. Begitu bahagia mereka dengan masa depan yang cerah ini. Cita-cita untuk menjadi penyanyipun sudah bulat difikir.
Pagi itu..
Telefon Luna membangunkannya, ia menguap perlahan sambil menjawab pangilan dari Rendi. “pagi Atha..” sapanya setengah tertidur. “hehe, sory bangunin pagi gini, Cuma.. ini tangalnya 3 tahun yang kita janjikan di bukit sahabat. Inget kan??” kata Rendi semangat. Sontak Luna melihat kalender besarnya, tanda bulat dengan tulisan biru mengagetkannya. “astaga, apa yang akan kita lakukan?” tanyanya. “aku berencana menghias tempat itu, gimana jam 8?” ucap Rendi. “iya jam 8, bye Atha” salam Luna. “bye Ara” dan sambungan telefon ditutup.
Luna segera bersiap-siap, jam 7.45 ia selesai sarapan dan mengambil tas jinjing abu-abunya. Ia membersikan isinya dan menemukan surat. Surat yang diberikan si pendonor misterius dulu. Ia membacanya lagi dan menemukan jawaban kecil. “hey Ara, aku Rendi” suara Rendi dibalik pintu. Luna membuka pintu kamarnya.
“Atha, aku ini bodoh ya..? bari detik ini aku tahu kalau singkatan nama PEN di surat ini, namanya Tasya” katanya sambil menunjukkan surat itu. “lho gimana bisa?” Tanya Rendi. “Dibalik Atha NEP jadi PEN” jelas Luna. Rendi sedikit terkejut “si pendonor berarti AVN. Siapa?” tanyanya. “entahlah aku belum nmenebak” ucap Luna. “sudahlah Lun persahabatan kita harus didahulukan di banding aku. Ayo ke bukit sahabat” ajaknya.
Di bukit sahabat, 8.30
“hmm.. syukurlah bukit ini persis dengan yang dulu. Tak ada yang berubah..” gumam Luna. “tak ada ?!” koreksi Rendi. “ya, memang semak belukar dan rumput liar sedikit mengganggu. Tapi bukankah untuk itu kita disini, membersikan dan menghias tempat ini” jawab Luna. Tak terasa berjam-jam berlalu hingga tempat itu kembali bersih.
“huft… sudah cukup setengah 12 waktunya istirahat makan” ajak Rendi. “iya kebetulan aku bawah sandwicth, ayo makan!” kata Luna bersemangat. “setelah ini kita tinggal menghias tempat ini” kata Rendi sambil mengambil jatah sandwicthnya. “iya semuanya sudah siap kan Atha?” Tanya Luna. “tenang saja tak rugi deh punya pacar Rendi Agatha Putra” kata Rendi PD.
“eh.. udah jam 12.15 ni, yuk pasang hiasanya” kata Rendi. Merekapun kembali bekerja, mulai dari memasang lentera, menghias kursi, lampu- lampu kecil dan banyak lagi. Tak lama merekapun selesai. “akhirnya selesai, hampir jam 3 nich” kata Rendi. “iya, hampir jam 3, tapi kenapa mereka belum datang?” Tanya Luna. “banyak hal yang dapat membuatmu terlambat, mereka pasti datang” kata Rendi percaya.
“ Ara, masih inget betapa seriusnya aku buat janji sahabat 3 tahun lalu?” Tanya Rendi tiba-tiba. “iya inget banget, seneng banget tiap inget itu. Inspirasi aku buat bikin 5 lagu sampai sekarang” jawabnya. “aku takut banget, sebagai laki-laki aku takut gak bisa tepatin janji. Alasan ke-2 aku yang juga kamu tahu, dan dengan tingkat kesembuhan yang cuma beberapa persen itu. Tapi teryata aku dapat kesempatan untuk selalu bersama kamu..” ucapnya lesu. Luna tersenyum dengan tatapan bahagia ke Rendi.
“Rendi! Luna!” teriak Farel darri balik pohon sambil berlari bersama Sandra. “kukira kami yang pertama, ternyata salah dan waw..! kalian yang menghias tempat ini?” kata Sandra. “begitulah, ada 3 toples kunang-kunang yang sudah kulepaskan bersama makanannya, malam nanti pasti indah. Karena tamu kita yg sebenarnya kan Neza dan Zara” ungkap Rendi. “kami juga sudah membuat kejutan, gelang persahabatan ini kami sendiri yang ukir nama kalian” kata Sandra sambil meberi gelang buatanya.
“ apa kami terlambat?” Tanya Zara mengejuktan mereka. “astaga kalian sudah datang, apa kabar kalian. Ini gelang untuk kalian” sapa Sandra. “wah makasih ya.. kami juga bawah oleh-oleh dari Surabaya” kata Neza. Dan merekapun larut dalam pembicaraan hingga larut. Para kunang-kunang mulai bermunculan dari balik pohon, lampu-lampu dan lentera pun dinyalakan. Semua begitu membahagiakan saat itu.
Pukul 20.00
“Waktunya pulang nich, entar kemaleman lagi” kata Rendi. “iya-iya lagian kita kan bakal satu sekolah mulai minggu depan” kata Sandra. “bener juga sih, gak nyangka kalian gak ada yang berubah” ujar Neza memeluk teman-temannya.
“Ara, mau ikut aku mengunjunggi pemakaman mama sama papa ngak besok? Soalnya kak Imel lagi sibuk” Tanya Rendi sambil membawa motor perlahan. “dengan senang hati” ucap Luna tersenyum. “oke dech jam 9 ya, kesiangan ntar panas” kata Rendi. “aku mah terserah aja. Bye Atha” kata Luna sambil turun dari motor karena udah sampai. “bye Ara, have a nice dream about me” ujarnya PD.
Esok harinya
Luna dan Rendi berdo`a untuk kedua orang tua Rendi, setelah usai Luna meletakkan bunga lili putih yang Ia bawa.
“waktunya pulang” kata Rendi.
“iya, baiklah memang sudah waktunya pulang” jawabnya.
“lho itu bukannya fayrica?!” Tanya Luna keheranan
“fayrica? Fayrica siapa” jawabnya.
“Fayrica itu adiknya Alvin. Aku tidak akan salah mengenali, itu Fayrica” katanya sambil menunjuk gadis kecil yang sedang terduduk menangis di depan 2 makam.
“Fayrica! Hey..” lanjutnya sambil melambaikan tangan.
Gadis itu menoleh tapi kemudian ia berlari dangat cepat. Hingga baik Rendi atau Luna kehilangan jejaknya.

Luna pergi menarik Rendi ke makam yang tadi dikunjunggi Fayrica. Detik itu juga tubuh Luna terjatuh ke tanah, air matanya menggalir membasahi pipinya, ia benar-benar terkejut bahkan shock.
Rendi datang dari belakangnya dengan ekspresi yang sama.

“ini nggak mungkin! Nggak mungkin!!” kata Rendi keras.
“katakan ini bukan nama Alvin yang kukenal!” lanjutnya tak percaya.
“ini dia Ren, Alvin Vito Nandictha dia Alvin” kata Luna sambil terisak.

Tangan Rendi menggengam kuat, ia tak kuasa menahan air matanya. Perlahan ia menggingat bagaimana saat pertemuannya dengan Alvin dan hingga saat ini, saat ia akhirnya tahu identitas si pendonor si NVA orang yang selama ini juga menyukai Luna. Namun hanya tinggal nama. Perlahan setelah inggatannya memudar tentang masa lalu dan kembali ke waktu ini, amarahnya menurun.

“biar kuluruskan, Alvin si pendonor itu bukannya pindah tapi ia disini, bersama dengan Tasya” katanya melihat nisan bertulis nama Tasya.
“inilah kenyatannya, tapi Ren biar hanya kita yang tahu seperti apa yang telah Alvin minta” kata Luna mengiyakan.
“kita harus hidup bahagia, bersama dengan sahabat kita, mengarunggi hari, menggapai mimpi, Kita akan bersama selalu, selamanya”
Luna menggangguk.
Dari kejauhan Fayrica sedang melihat mereka, Fayrica nampak senang keingginan kakaknya akhirnya dapat terpenuhi. Perlahan ia pergi meninggalkan tepat itu.

2 tahun kemudian
“bagaimana perasaan kalian menjadi band termuda yang memenangkan penghargaan music ini?”
“jelas kami sangat bangga, sebenarnya ini memang mimpi kami tapi kami tak menyangka membawa trophy ini di tahun ini” jawabnya
“sejak 2 tahun lalu Future Band karirnya begitu melesat apa sich yang jadi penyebabnya?”
“band ini terbentuk karena persahabatan, jadi enjoy itu salah satu kunci kekompakan kami. Habis mau gimana lagi kami udah lama sejak kecil bersahabat. Pokoknya enjoy dech!”
“banyak band yang katanya melarang hubungan di dalam bandnya, menurut kalian?”
“inilah kami begitu banyak hal yang terjadi sebelum band ini terbentuk, begitu berat, kalau hanya masalah hubungan menurut kami nggak akan jadi masalah”
“okey kalau begitu pemirsa mari kita sambut Remdi, Luna, Farel, Sandra, Neza, dan Zara The Future Band!!”

Selamanya kami akan bahagia, kita adalah sahabat, menggarunggi hari, meraih mimpi. Kita akan bersama selalu, selamanya. Di bukit sahabat ini kita menggucap janji bersahabatan 15 tahun lalu, dan hingga sekarang kita mengginjakkan kaki di sini kita tetap sahabat.

TAMAT

Minggu, 29 Juli 2012


buat yang suka accesoris bisa beli disini.
murah kok per huruf cuma Rp.1000, bebas pilih
-gantungan ponsel
-gantungan kunci
- buat tempelan tanpa gantungan
bebas pilih warna
-warna huruf
-warna dasaran huruf
-warna dasar
Terus kalau pengen tambahan tinggal ngomong aja,
pengen beli? gampang tinggal coment aja nanti kukasih rekeningnya..

Jumat, 27 Juli 2012

puisi

Bunga Sakura
Karya : Reza D. Fajar
Semua orang kan bahagia
Saat April telah tiba
Menikmati hari di luar rumah
Berjalan di bawah pohon sakura
Satu demi satu kelopak berguguran
Menjadi momen tak terlupakan
Senda gurau, canda dan tawa
Berlari, menari , bermain bersama
Tapi apa yang terjadi…
Setelah kelopak tlah di atas tanah
Adakah yang akan mengambilnya?
Sayangnya tidak , semua dilupakan
Kelopak itu ditinggalkan selamanya
Itulah kerasnya kehidupan ini
Semangatlah yang dapat merubah
Karena saat di atas bagai raja
Namun di bawah bagai pengemis

Pesan: hidup tak selamanya indah. Bagaikan roda kadang diatas kadang di bawah.

Rabu, 27 Juni 2012

lirik faforit

Marry You

by: Bruno Mars

it's a beautiful night,
we're looking for something dumb to do.
hey baby,
i think i wanna marry you.

is it the look in your eyes,
or is it this dancing juice?
who cares baby,
i think i wanna marry you.

well i know this little chapel on the boulevard we can go,
no one will know,
come on girl.
who cares if we're trashed got a pocket full of cash we can blow,
shots of patron,
and it's on girl.

don't say no, no, no, no-no;
just say yeah, yeah, yeah, yeah-yeah;
and we'll go, go, go, go-go.
if you're ready, like i'm ready.

cause it's a beautiful night,
we're looking for something dumb to do.
hey baby,
i think i wanna marry you.

is it the look in your eyes,
or is it this dancing juice?
who cares baby,
i think i wanna marry you.

i'll go get a ring let the choir bells sing like oooh,
so whatcha wanna do?
let's just run girl.

if we wake up and you wanna break up that's cool.
no, i won't blame you;
it was fun girl.

don't say no, no, no, no-no;
just say yeah, yeah, yeah, yeah-yeah;
and we'll go, go, go, go-go.
if you're ready, like i'm ready.

cause it's a beautiful night,
we're looking for something dumb to do.
hey baby,
i think i wanna marry you.

is it the look in your eyes,
or is it this dancing juice?
who cares baby,
i think i wanna marry you.

just say i do,
tell me right now baby,
tell me right now baby, baby. [x2]

cause it's a beautiful night,
we're looking for something dumb to do.
hey baby,
i think i wanna marry you.

is it the look in your eyes,
or is it this dancing juice?
who cares baby,
i think i wanna marry you.

info

alhamdulillah naik kelas dua Smp dapat peringkat 2 terima kasih do`a dari teman-teman semua.
buat story aku bakal cepet update selama 2 bulan ini karena jadwal ga full.
tolong masukan ya buat kedepannya..
aku tambah animasi shugo chara, pengenya sich Miki tapi ga da kalau punya tolong kasih tahu ya..
yang mau request story juga boleh yang jelah saya minta partisipasinya..

terima kasih, Reza Fajar 

Jumat, 08 Juni 2012

Info

huft...
harus absen buat update story nich..
UKK..UKK bentar lagi kelas 2 SMP..
semua minta do`a ya, biar naik kelas dengan nilai yang baik..
buat yang ngasih do`a, aku do`a in juga biar semua mimpinya terwujud..
in the road to reach my goal of life..
Thank You All..

Rabu, 23 Mei 2012

Secret Hunter

Secret Hunter

            Angin berhembus kencang, saat ini aku sedang berdo`a di makam orang tuaku dengan Jae Joong kakakku. “ JJ, aku selesai, ayo kembali” ajakku. “kalau mau masih ada waktu 1 menit untuk berlama-lama di sini” katanya. Aku hanya berjalan ke mobil sebagai jawaban “tak lucu”. Mobil biru tua kakakku melesat melewati jalan sepi dan menerbangkan daun-daun kering di musim gugur ini. Sekejap kami telah sampai, di tempat yang jadi rumah ke duaku ini. Disinilah aku home schooling, teman-temanku adalah agen rahasia, beberapa FBI, paspampres, professor, shooting, dan banyak lagi. “hey, Jae Shik lihat game buatanku ini” kata orang ke-2 termuda di sini setelah aku, ahli computer Jang Hae Min. “kelihatanya bagus, bagaimana cara mainnya?” tanyaku antusias. Dan inilah kehidupanku sebagai SECRET HUNTER.
“kalian jangan main terus, ayo latian menembak lagi” ajak lady meirrin. “aku sedang bertugas lady” jawab Hae Min, “dan ini bukan jadwal latihanku” tambahku. Lady meirrin tak menjawab dan pergi ke tempat lat.tembak. “kalian mau jus” kata kak Shin Jung. “tentu” jawabku. “Jae Shik, kakakmu mana?” tanyanya. “kakak sedang latihan Tembak” jawabku. “baiklah kalau begitu, sampai jumpa” kata kak Shin Jung. Aku hanya melambaikan tangan.
“perhatian, tim Rose akan segera sampai” suara kapten Jang mendenggung di semua ruang, kami segera menempati posisi. Kali ini tugasku hanya memastikan keamanan, komandan memang sering melarangku diberi tugas lapangan, dia selalu bilang “kau masih kecil”. Akupun mulai bekerja, “lotus pada rose, lotus pada rose kirimkan signal kalian”. “baik” jawab mereka, tak lama signal mereka sampai di komputerku. “masih ada 3 orang penyusup” kataku pada tim rose dan ke dua kaptenku. “kami kekurangan senjata” kata salah seorang tim rose.
“Jae Joong, Shin Jung bantu mereka” kata kapten Han pada kami. Tepat 15 menit bantuan pergi, radarku tak melihat penyusup lagi. “okey, kapten kita berhasil!!” kataku keras. 10 menit berikutnya mereka sampai di markas. Kami melanjutkan aktivitas hingga waktunya pulang. Sekarang jam Sembilan malam. Mobil kakakku melesat kencang ke rumah yang sepi dan gelap, tentu saja lampunya belum dinyalakan.
“hey jangan sentuh aku!!” teriak seseorang. “kau saja” kata kakakku lembut, aku mengerti maksudnya. Aku segera turun dari mobil dan berlari ke balkon. Benar saja 3 orang preman berbadan besar sedang mengikat nona muda, dan 2 yang lain sedang menggoda nona itu. “seenaknya saja kalian masuk ke rumah orang dan berbuat kotor” kataku sambil berjalan mendekat. “hey gadis kecil, kalau kau mau, tunggu sampai kami selesai dengan nona ini atau sekarang juga boleh” kata salah satu dari mereka. “hmm… kita dapat 2 hari ini” kata seorang lagi. “2 tinju,2 tendang. Akan kupastikan” kataku. “gadis kecil pergilah, selamatkan dirimu” kata nona muda itu. Lalu terdenganr “huaa.. daak.. prangg.. teng.. dess.. prakk.. aww..” dan terakhir “meaww..”. “kucing liar” kataku.
Aku melepaskan nona itu, lalu memberinya makan dan ia mulai bercerita. “namaku Park Na Ree, aku baru sampai dari New York saat mereka menangkapku di pintu bandara, lalu mereka membawaku ke sini sampai kau datang. Siapa namamu? Dan siapa pria yang masuk tadi?” katanya. “aku Kim Jae Shik, tadi kakakku Kim Jae Joong. Dia pasti sedang mandi” jawabku.
Dia bercerita hingga larut malam tentang perusahaan ayahnya Park Kang Min, dan dia yang akan menjadi pewaris perusahaan. Jam sepuluh lebih tiga puluh menit, dia baru berpamitan pulang. Kakakku menyuruhku segera tidur karena besok tak libur. “sial. Aku lelah meladeni nona itu” keluhku. “kakak!!! Gunakan lampu otomatis pada rumah kita!!” teriakku pada kakak. “nanti saja, kalau kakak ingat” jawab kakakku seadanya.
Jum`at, pukul 5.00
“hei cepat sedikit makanya, komandan pasti melarangmu tugas lapangan lagi” perintah kakakku. “memangnya kapan komandan menyuruhku tugas lapangan, yang kuingat cuma menangkap perampok. Aku selesai, ayo berangkat” jawabku.
“5.20 kita tidak terlambat” kataku antusias. “Jae Joong, Jae Shik ayo cepat masuk, tugas dini hari” sapa kak Shin Jung sambil menarikku. “ada apa kak” tanyaku. “demo besar akan terjadi di kantor presiden, meskipun presiden tidak di tempat tapi mereka akan menyerang wapres. Komandan bilang akan ada rencana peledakan gedung. Kita akan menyamar.” Jelas kak Shin Jung. “tunggu dulu, kita?? Aku tugas lapangan” tanyaku tak percaya. “tentu saja, ayo lekas kemasi alat-alat dan berangkat” katanya semangat.
“okey, tim rose, JJ. Kalian siap” kata kapten Han Jung In pada kami. “siap” jawabku mewakili. “okey kalian bawa 2 mobil, Shin Jung, Jae Shik bawa mobil S2AD. Kalian sebagai pendemo, Jae Joong kau jadi paspampres” kata kapten Jang tegas. “mengerti!!” dan kamipun segera berangkat.
Sesampainya di sana para pendemo telah berkumpul, aku dan SJ pun mulai bergaul dengan mereka, sayangnya kami tak menemukan rencana rahasia, kebanyakan hanya ingin hak mereka dipenuhi tanpa perlu melukai siapapun. Tak lama kemudian seorang pendemo mulai berteriak. Dengan cekatan kami mengawasi gerak-gerik para pendemo. Tak ada yang mencurigakan hingga 1 jam ini, hingga seorang pendemo terlihat mengendap-endap pergi. Aku menggikutinya dengan hati-hati, pria itu memasuki mobil dan mengambil kardus dari sana. “JS pada lotus, coba lihat kandungan benda-benda di sekitarku” laporku pada Hae Min. “arah jam 3, kandungan pembuat bom. Atasi dia!” jawabnya.
Mendengar itu aku segera menyergapnya, bukanya melawan dia tersenyum padaku. Namun akhirnya dia melawan, kami bertarung cukup lama. Ku akui dia karatendo yang hebat. Aku sempat meresa aneh karena ia sama sekali tak bicara. Mataku jeli melihat topi hitamnya yang bertulis “paspampres”, dalam hati aku bertanya apa dia benci paspampres. Namun tiba-tiba ia berlari, “hey.. berhenti kau teroris” teriakku. Ternyata di balik tembok agen SJ telah menunggu. Pria itu tetap tenang dan tanpa ekspresi menggeluarkan tombol kecil, dan dia melemparnya ke tanah “diarrrr….”ledakanya tak besar namun asapnya pekat. Sadarlah aku telah terjebak. Aku menariknya yang berlari dari balik pohon menuju mobil, namun yang kudapat hanya sapu tangan hitam.
Aku dan SJ kembali ke markas, sedangkan JJ tetap berjaga di lokasi. Aku begitu terkejut melihat komandan di depan komputerku, komandan sangat jarang berada di markas. “agen JS dan SJ kalian berhasil mengamankan gedung presiden, apa ada lagi yang kalian temukan?” katanya. “komandan, aku gagal menangkapnya, tapi aku menemukan ini” kataku sambil menyerahkan sapu tangan itu, ada lambang “G” di pojoknya. “huh… sudah 10 tahun ya.. sudah dimulai” kata beliau sambil menghela nafas. “apa yang dimulai” Tanya kak Shin Jung. “akan kuberi tahu bila saatnya tiba. Sekarang tarik JJ ke markas, aku yakin tak ada yang akan terjadi” jawabnya pasti.
Orang sebaik komandan yang merawatku sejak orang tuaku tiada 10 tahun yang  lalu, apa yang ia fikirkan hingga menghela nafas seperti itu? Tanyaku dalam hati, namun mengenang 10 tahun yang lalu membuatku ingat ia sempat membahasnya membuatku agak takut mencarinya, ku pikir apa yang ditutupi komandan pasti memang tak seharusnya ku cari tahu.
Normal POV:
“perhatian semuanya, hari ini hari istimewa, komandan berbaik hati mentraktir kita semua!!” ucap kapten Han pada mic. Suara sorak senang terdengar ramai, mobil- mobil kami satu persatu meninggalkan markas.
Setelah sampai meja di penuhi oleh makanan dan minuman. Jae Shik memilih mengambil sekaleng soft drink dan pergi mencari udara segar di balkon lantai 2. “bintang malam ini banyak sekali. Ah itu rasi bintang Leo, indahnya” gumam Jae Shik. Tak terasa 2 jam lebih Jae Shik memandang bintang. (sebenarnya kebiasaan memandang bintang dan langit berjam-jam itu kebiasaan penulis hehe:D) ponsel Jae Shik berbunyi. Pesan singkat berisi “ku tunggu di mobil” membuatnya bergegas.
Di rumah:
“kakak kita dapat hadiah!” Kata Jae Shik sambil mengangkat kotak di depan pintu. “ada suratnya. Biar aku baca. Untuk Jae Shik dan kakaknya Jae Joong, aku member kalian sedikit hadiah sebagai tanda terimah kasih. Sebenarnya aku ingin memberinya secara langsung melalui surat seperti ini tidak sopan buatku, tapi aku sudah menunggu selama 2jam dan kalian belum pulang. Oh ya besok tolong telpon aku di nomer ini 08**********. Park Na Ree” bacanya.
“kak aku akan pergi ke kamar untuk membuka hadiahku” ucap Jae Shik. “Jae Shik, ku rasa kau salah mengartikan hadiah itu. Na Ree berbeda dengan Shin Jung, aku yakin kau takkan suka hadiah itu” kata Jae Joong mengingatkan. Namun Jae shik malah memasang muka sebal, ia berlari ke kamarnya. Satu menit kemudian. “iii waww, apa`an nich?” kata jae Shik keluar kamar sambil membawa bando pink berbagai model. “hwahahaha…” tawa Jae Joong meledak. “percayalah pada kakak, kakak yakin dalam kado kakak isinya dasi. Karna penasaran Jae Shik membuka kado kakaknya, dan ternyata benar beberapa dasi bermotis lucu ada di dalamnya.
Esok paginya
“Jae Shik, apa yang kau lakukan?” Tanya Jae Joong dari dapur. “sedang menelpon kak Na Ree, meski aku takkan menggunakan hadiahnya, tapi aku harus berterima kasih” ucapnya.
“halo, kak Na Ree?” katanya mulai bicara. “iya, apa ini Jae Shik?” jawabnya. “iya kak, emm… kak aku mau berterima kasih untuk hadiahnya, maaf harus lewat telpon” kata Jae Shik. “Jae Shik, kau dan kakakmu datanglah untuk makan siang di rumahku hari ini! Alamatnya akan ku kirim lewat SMS” pintanya. “baiklah kak sampai jumpa” jawabnya.
~~END~~
Bagaimana kesan Jae bersaudara dengan rumah Park Na Ree dan semua hal di dalamnya, bakal lanjut.