Senin, 12 Maret 2012

the little match seller

The Little Match Seller
by
Hans Christian Andersen
(1846)
IT was terribly cold and nearly dark on the last evening of the old year, and the snow was falling fast. In the cold and the darkness, a poor little girl, with bare head and naked feet, roamed through the streets. It is true she had on a pair of slippers when she left home, but they were not of much use. They were very large, so large, indeed, that they had belonged to her mother, and the poor little creature had lost them in running across the street to avoid two carriages that were rolling along at a terrible rate. One of the slippers she could not find, and a boy seized upon the other and ran away with it, saying that he could use it as a cradle, when he had children of his own. So the little girl went on with her little naked feet, which were quite red and blue with the cold. In an old apron she carried a number of matches, and had a bundle of them in her hands. No one had bought anything of her the whole day, nor had anyone given her even a penny. Shivering with cold and hunger, she crept along; poor little child, she looked the picture of misery. The snowflakes fell on her long, fair hair, which hung in curls on her shoulders, but she regarded them not.
Lights were shining from every window, and there was a savory smell of roast goose, for it was New-year’s eve—yes, she remembered that. In a corner, between two houses, one of which projected beyond the other, she sank down and huddled herself together. She had drawn her little feet under her, but she could not keep off the cold; and she dared not go home, for she had sold no matches, and could not take home even a penny of money. Her father would certainly beat her; besides, it was almost as cold at home as here, for they had only the roof to cover them, through which the wind howled, although the largest holes had been stopped up with straw and rags. Her little hands were almost frozen with the cold. Ah! perhaps a burning match might be some good, if she could draw it from the bundle and strike it against the wall, just to warm her fingers. She drew one out—“scratch!” how it sputtered as it burnt! It gave a warm, bright light, like a little candle, as she held her hand over it. It was really a wonderful light. It seemed to the little girl that she was sitting by a large iron stove, with polished brass feet and a brass ornament. How the fire burned! and seemed so beautifully warm that the child stretched out her feet as if to warm them, when, lo! the flame of the match went out, the stove vanished, and she had only the remains of the half-burnt match in her hand.
She rubbed another match on the wall. It burst into a flame, and where its light fell upon the wall it became as transparent as a veil, and she could see into the room. The table was covered with a snowy white table-cloth, on which stood a splendid dinner service, and a steaming roast goose, stuffed with apples and dried plums. And what was still more wonderful, the goose jumped down from the dish and waddled across the floor, with a knife and fork in its breast, to the little girl. Then the match went out, and there remained nothing but the thick, damp, cold wall before her.
She lighted another match, and then she found herself sitting under a beautiful Christmas-tree. It was larger and more beautifully decorated than the one which she had seen through the glass door at the rich merchant’s. Thousands of tapers were burning upon the green branches, and colored pictures, like those she had seen in the show-windows, looked down upon it all. The little one stretched out her hand towards them, and the match went out.
The Christmas lights rose higher and higher, till they looked to her like the stars in the sky. Then she saw a star fall, leaving behind it a bright streak of fire. “Someone is dying,” thought the little girl, for her old grandmother, the only one who had ever loved her, and who was now dead, had told her that when a star falls, a soul was going up to God.
She again rubbed a match on the wall, and the light shone round her; in the brightness stood her old grandmother, clear and shining, yet mild and loving in her appearance. “Grandmother,” cried the little one, “O take me with you; I know you will go away when the match burns out; you will vanish like the warm stove, the roast goose, and the large, glorious Christmas-tree.” And she made haste to light the whole bundle of matches, for she wished to keep her grandmother there. And the matches glowed with a light that was brighter than the noon-day, and her grandmother had never appeared so large or so beautiful. She took the little girl in her arms, and they both flew upwards in brightness and joy far above the earth, where there was neither cold nor hunger nor pain, for they were with God.
In the dawn of morning there lay the poor little one, with pale cheeks and smiling mouth, leaning against the wall; she had been frozen to death on the last evening of the year; and the New-year’s sun rose and shone upon a little corpse! The child still sat, in the stiffness of death, holding the matches in her hand, one bundle of which was burnt. “She tried to warm herself,” said some. No one imagined what beautiful things she had seen, nor into what glory she had entered with her grandmother, on New-year’s day.
The End
translate Indonesian:
                                                                  Penjual Korek Api Kecil
                                                                                  oleh
                                                                  Hans Christian Andersen
                                                                                (1846)
T sangat dingin dan hampir gelap pada malam terakhir tahun lama, dan salju jatuh cepat. Dalam dingin dan kegelapan, seorang gadis kecil yang malang, dengan kepala telanjang dan kaki telanjang, berkeliaran di jalan-jalan. Memang benar dia pada sepasang sandal ketika dia meninggalkan rumah, tetapi mereka tidak banyak berguna. Mereka sangat besar, begitu besar, memang, bahwa mereka milik ibunya, dan makhluk kecil yang malang telah kehilangan mereka dalam menjalankan seberang jalan untuk menghindari dua gerbong yang bergulir bersama pada tingkat yang mengerikan. Salah satu sandal dia tidak bisa menemukan, dan anak laki-laki ditangkap atas lainnya dan melarikan diri dengan itu, mengatakan bahwa ia bisa menggunakannya sebagai cradle, ketika ia memiliki anak sendiri. Jadi gadis kecil itu melanjutkan dengan kaki kecilnya telanjang, yang cukup merah dan biru dengan dingin. Dalam sebuah celemek lama dia membawa jumlah korek api, dan memiliki bundel dari mereka di tangannya. Tidak ada yang membeli sesuatu dari sepanjang hari itu, juga belum ada yang memberinya bahkan sepeser pun. Menggigil kedinginan dan kelaparan, dia merayap sepanjang; anak kecil yang malang, dia melihat gambar penderitaan. Kepingan salju jatuh pada panjang rambutnya, adil, yang digantung di ikal pada bahunya, tapi ia pun tidak.Lampu-lampu bersinar dari setiap jendela, dan ada bau gurih dari angsa panggang, untuk itu malam-ya New-tahun, ia ingat itu. Di pojok, di antara dua rumah, salah satunya diproyeksikan melampaui lain, ia terduduk dan meringkuk sendiri bersama-sama. Dia telah menarik kaki sedikit di bawah, tapi dia tidak bisa menjaga dari dingin, dan ia tidak berani pulang, karena ia telah menjual tidak ada korek api, dan tidak bisa dibawa pulang bahkan satu sen pun uang. Ayahnya pasti akan memukulinya, selain itu hampir sama dingin di rumah seperti di sini, karena mereka hanya punya atap untuk menutupi mereka, di mana angin melolong, meskipun lubang terbesar telah dihentikan dengan jerami dan kain. Tangan kecilnya hampir beku kedinginan. Ah! mungkin korek api pembakaran mungkin ada beberapa yang baik, jika dia bisa menarik dari bundel dan menyerang kota ini ke dinding, hanya untuk menghangatkan jari-jarinya. Dia menarik satu-"awal!" Bagaimana tergagap karena dibakar! Ini memberikan cahaya, hangat terang, seperti lilin kecil, saat ia memegang tangannya di atasnya. Ini benar-benar cahaya yang indah. Sepertinya gadis kecil bahwa dia sedang duduk kompor besi besar, dengan kaki kuningan dipoles dan hiasan kuningan. Bagaimana api terbakar! dan tampak begitu indah hangat yang anak mengulurkan kakinya seolah-olah untuk menghangatkan mereka, ketika, lo! korek api padam, kompor lenyap, dan ia hanya sisa-sisa korek api setengah terbakar di tangannya.Dia mengusap korek api lain di dinding. Ini tiba terbakar, dan di mana cahayanya jatuh pada dinding menjadi setransparan jilbab, dan ia bisa melihat ke dalam ruangan. Meja itu ditutupi dengan taplak meja-salju putih, yang berdiri layanan makan malam yang indah, dan angsa panggang dikukus, diisi dengan apel dan plum kering. Dan apa masih lebih indah, angsa melompat turun dari piring dan tertatih-tatih di lantai, dengan pisau dan garpu di payudara, untuk gadis kecil itu. Kemudian korek api keluar, dan masih ada tidak lain, tebal basah, dinding dingin di depannya.Dia menyalakan korek api lain, dan kemudian ia mendapati dirinya duduk di bawah pohon Natal yang indah. Itu lebih besar dan lebih indah dari yang dihiasi yang ia telah melihat melalui pintu kaca di pedagang kaya. Ribuan kemiringan terbakar pada cabang hijau, dan gambar berwarna, seperti yang dia lihat di acara-jendela, dipandang rendah semuanya. Si kecil mengulurkan tangannya ke arah mereka, dan korek apikeluar.Lampu-lampu Natal naik lebih tinggi dan lebih tinggi, sampai mereka tampak bagaikan bintang-bintang di langit. Kemudian ia melihat bintang jatuh, meninggalkan itu beruntun terang api. "Seseorang sedang sekarat," pikir si gadis kecil, untuk nenek tua nya, satu-satunya yang pernah mencintainya, dan yang sekarang mati, bercerita bahwa ketika jatuh bintang, jiwa akan sampai kepada Allah.Dia kembali mengusap pertandingan di dinding, dan cahaya bersinar meliputi dirinya, dalam kecerahan berdiri nenek tuanya, jelas dan bersinar, namun ringan dan penuh kasih dalam penampilannya. "Nenek," seru si kecil, "Wahai membawa saya bersama Anda, saya tahu Anda akan hilang ketika pertandingan membakar, Anda akan lenyap seperti kompor yang hangat, angsa panggang, dan, besar mulia Natal-pohon." Dan dia bergegas menyalakan bundel seluruh pertandingan, karena ia ingin menjaga neneknya di sana. Dan pertandingan bersinar dengan cahaya yang lebih terang dari siang hari-dan neneknya tidak pernah muncul begitu besar atau begitu indah. Dia mengambil gadis kecil dalam pelukannya, dan mereka berdua terbang ke atas dalam kecerahan dan sukacita jauh di atas bumi, di mana ada tidak dingin atau lapar atau sakit, karena mereka dengan Allah.Pada fajar pagi ada meletakkan si kecil miskin, dengan pipi pucat dan mulut tersenyum, bersandar ke dinding, dia telah mati beku pada malam terakhir tahun ini, dan matahari Baru-tahun bangkit dan bersinar atas sedikit mayat! Anak itu masih duduk, dalam kekakuan kematian, memegang pertandingan di tangan, satu bundel yang dibakar. "Dia mencoba untuk menghangatkan dirinya sendiri," kata beberapa. Tidak ada yang membayangkan apa yang indah hal yang dilihatnya, atau menjadi apa kemuliaan ia masuk dengan neneknya, pada tahun baru.                                                                                Tamat

Jumat, 17 Februari 2012

With You Always

With You Always 3
Alvin serasa meledak ia tidak menyangka kini tidak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk mengambil hati Luna. Alvin masuk ke kelasnya dengan amarah yang cukup tinggi, tak lama kemudian Luna dan Rendi masuk dengan muka berseri dan tawa bahagia. Saat itu juga Alvin merasakan kepalanya sakit, sangat sakit. Ia berteriak keras, lalu terdengar suara memanggil namanya, suara terakhir yang ia dengar sebelum ia pingsan.
Alvin POV
Aku mendengar suara burung cukup keras, kubuka mataku perlahan dan aku melihat pemandangan yang tidak asing. “rumah sakit berlian, ruang VIP no.03” gumamnya pelan, ia melihat jam di sebelahnya “sial.. sudah jam empat, dokter pasti melarangku pulang malam ini” gumamnya lagi. Pandanganya beralih ke arah sofa, adiknya fayrica sedang tidur berpangku pada mamanya. Lalu ia mendengar lagi burung-burung kecil berkicau di jendela. Sejenak ia tersenyum lalu mengigat masa lalunya. Tak lama kemudian ayahnya masuk membawa makanan, adik dan mamanya terbangun. “ lho Alvin sudah siuman?” kata mamanya menyadari keberadaanya. Sebelun Alvin menjawab adiknya Fayrica berlari dan langsung memeluknya. “kakak…… fayrica kangen…” katanya manja. “ iya, kakak juga” jawabnya sambil mengacak-acak rambut adiknya. Lalu ia melihat mamanya dan berkata “ aku bangun jam 4 tadi, boleh aku pulang malam ini? Tanyanya. Mamanya hanya menghela napas dan berkata “ mama rasa kamu sudah tahu jawabannya. Bila kau tidak menginginkan hal ini berhentilah memikirkan gadis itu!” katanya. “ ma jangan salahkan Alvin, dia tahu yang terbaik, dia sudah besar” bela ayahnya. “tapi ini akibatnya, Alvin lah yang harus menderita” jawab mama Alvin marah. “Aku yakin Alvin sudah tahu resikonya” belanya lagi Alvin hanya terdiam, tak lama, mamanyapun terdiam, mereka tahu Alvin benci perdebatan .
Alvin memecah keheningan dengan berkata “aku ingin mencari udara segar sendirian”. Ia berjalan dengan mata sayu, adiknya Fayrica tersenyum manis. Saat dia diluar dilihatnya wajah yang taka sing, seorang gadis yang dilihatnya sejak pertama ia dirawat disini. Di mata Alvin gadis itu tak pernah berubah, gadis pucat yang selalu tersenyum manis, namun pikirannya tentang gadis itu hilang saat dia memanggil namanya “kau Alvin kan..?” sapanya. “iya, darimana kau tahu? Siapa kau?” jawab Alvin. “aku mendengarnya dari para suster cerewet itu, aku Tasya, salam kenal” kata tasya sambil berjabat tangan dengan Alvin. Alvin tersenyum lalu berkata “kau mau jalan-jalan? Aku bosan di sini” katanya. “boleh, ayo ke balkon. Akan ku tunjukkan sisi indah R.S. Berlian” jawabnya bersemangat.
Di lorong yang mereka lewati Tasya sering kali menyapa orang-orang di sana, Alvin sempat berpikir Tasya pemilik RS ini, tapi ia menangkis pikirannya itu karena mana mungkin pemilik RS memakai baju pasien?. Alvin merasa aneh, ia bertannya “hei, aku yakin aku melihatmu sejak pertama kali aku dirawat di sini, 5 thn lalu. Apa panyakitmu?” tanyanya datar. “akan kuceritakan di balkon nanti, karena ceritanya panjang” jawabnya tetep dengan senyum khasnya.
“Sudah sampai, ini balkonnya indah bukan?”katanya tak lama kemudian. Alvin tak sanggup berkata apa-apa ia terdiam takjup, tak lama kemudian ia berkata “Luar Biasa..”. “gunung yang indah, sungai dan taman, pohon besar dengan burung yang lucu. Ini pemandangan asli RS ini” katanya ceria, namun berkaca-kaca.
“kau sakit apa?” tanyaku serius, “em.. aku sakit loukimia stadium 4, perawatan intensif di sini hamper 6 th, sampai aku mendapat donor sum-sum tulang belakang yang sesuai aku akan terus tergantung dengan obat-obatan” jawabnya dan lagi-lagi dengan senyuman. “oh.. begitu, hampir sama denganku. Aku punya kangker otak hampir 2th ini” kataku. “benarkah..? lalu kenapa rambutmu tidak gundul?” Tanya Tasya dengan nada mengejek.” Enak saja, karna keinginan sehatku yang tinggi & rutin minum banyak obat sekaligus, jadi tidak pengaruh”. Mereka terus ngobrol, bercanda, dan saling ejek bersama hingga sunset yang indah menyapa mereka. Tak lama kemudian Alvin menyadari sudah waktunya kembali sebelum nanti keluarganya mengomel lagi. “Tasya, aku harus kembali. Bye” katanya sambil berlari kecil meniruni tangga.
Sampai memasuki ruanganya wajah mereka benar-benar kawatir. “maafkan aku” kataku memelas menuju tempat tidur. “dari manasaja?” sahut ibunya. “main dengan teman baruku Tasya” jawabku seraya tidur. Mereka lalu hanya diam membiarkanku tidur.
Esok harinya:
Di sekolah
“Surat dari rumah sakit menyatakan Alvin sakit dan absen hari ini” kata bu Indriana. “maaf bu saya sekretaris kelas, boleh saya tahu penyakit Alvin agar dapat menukisnya di buku absen?” kata Lia.” Kali ini kamu tulis saja sakit ya” kata bu Indriana. Lia agak bingung denga jawaban bu Iriana, namun tetap mengangguk sopan. “dia punya riwayat penyakit?” Tanya Rendi tiba-tiba pada Luna. “aku tidak tahu, kurasa tidak” katanya.
Di Rumah Sakit
Pagi ini Alvin bangun dengan semangat dan senyuman. Alvin merasa senang dengan keadaan di rumah sakit ini mulai kemarin. Ia berpamitan pada mamanya untuk membeli makan, dan tentu untuk menemui Tasya. Ia sengaja membeli 2 mangkuk bubur ayam dan air mineral. Saat ia menuju ruangan Tasya ia melihat Tasya duduk melamun di bangku kecil, Alvin menghampirinya. “hoyy… ngelamun aja nich aku bawain makan” sapanya.
“eh iya Vin, ga perlu ngagetin ngapa?” jawabnya. “iya dech sorry. Udah cepet ni makan!” kata Alvin lagi sembari menyerahkan semangkuk bubur pada Tasya. Sambil makan Alvin bertanya “lho mama & papamu mana?”. “ya mereka kerja lha” jawabnya cepat. “cewek kok galak” sindir Alvin padanya. Tasya tak merespon dan hanya melanjutkan makan, sementara Alvin terkekeh.
Setelah makan Alvin pamit karna waktunya periksa rutin. Sesampainya di kamar ia menggerutu “huff… sendirian lagi, semua sibuk sendiri” lalu membaringkan tubuhnya di kasur. Tak lama kemudian pintu diketuk oleh seorang suster pemeriksanya. Sambil di periksa ia hanya melamun memikirkan betapa tegarnya Tasya, hingga tak terasa pemeriksaan terasa begitu cepat. Saat ia sadar dari lamunannya suster itu sudah keluar.
Skip pagi harinya
Seperti kemarin Alvin hendak menemui Tasya, apalagi hari ini Alvin sangat kesal karena seharian kemarin ia sendirian. Saat tiba di depan pintu kamar Tasya raut muka Alvin berubah menjadi khawatir. Seorang suster menghadangnya dan berkata “maaf, Tasya harus dirawat ketat oleh dokter”. Alvin kembali ke kamarnya dengan perasaan galau, ia hanya mondar mandir tanpa memakan makanan yang tadi dibelinya, entah kenapa perasaannya sangat buruk.
Sore pukul 15.00
Alvin berteriak dari tidurnya dengan keringat dingin membasahi wajahnya. Ia mencoba vokus pada hal yang terjadi, lalu bergumam “mimpi buruk”. Namun saat mengingat mimpi itu ia panic “siapa.. siapa gadis itu? Kenapa ia berterima kasih padaku? Dan kenapa aku melarangnya pergi?” tiba- tiba pintunya diketuk cepat oleh seseorang “Alvin… Alvin…”. “ada apa tante?” jawabku sambil membuka pintu. “nak Tasya nak, kamu harus temui dia” kata ibu Tasya sambil menangis. Seolah tahu apa yang terjadi aku berlari ke kamar Tasya meninggalkan ibunya.
Aku membuka pintu kamar itu, ku lihat ayah Tasya juga menagis, kuhampiri tasya dan ku genggam tangannya. “Alvin tasya kritis nak” kata ibu Tasya. “Tasya.. Tasya bangun Sya ! kamu gak boleh ninggalin aku Sya!” teriak Alvin. Sesaat ku lihat matanya terbuka walau sedikit. Alvin berkata lagi “Sya kamu gak boleh pergi!! Inget janji kamu !” “v..vin” sela Tasya “ma..ma..ka…s..iii...h m..maa..u b..ber..r..te…ma..n.. d..en…gan…ku” katanya
“m..ma…ma, pa…pa Ta…sy..a ss..a…ya..n..g k..kal…li..an” katanya lagi “iya Sya kami juga sayang padamu” jawab ibunya sementara papanya tak sanggup berkata apa-apa. Alvin terus berkata padanya “Sya dengerin aku, kamu harus semangat kamu pasti bisa bertahan! Percayalah Sya!!” tasya hanya tersenyum lalu matanya perlahan tertutup, terdengar bunyi dari alat disebelahnya. Kedua orang tua Tasya menagis semakin histeris. Alvin begitu tak percaya dengan apa yang dilihatnya “Sya..Tasya bangun Syaaa…!!!”
Alvin terbangun di kamarnya , kepalanya terasa berat. Selembar kertas putih berada digenggamanya.
Alvin maaf kami pergi tanpa pamit, kami memakamkan Tasya di TPU sekar putih, kalau kamu ingin kamu bisa pergi kesana. Vin sekedar agar kamu kamu adalah satu-satunya bagi Tasya. Di akhir hidupnya Tasya begitu bahagia. Tasya tak pernah lebih bahagia dibanding saat kamu datang sebagai temannya. Tante Fitri dan Om Dika sangat berterima kasih dan meminta maaf. Kami pamit nak..
Alvin terus menggigat disaat kebersamaannya dengan Tasya, sambil menagis ia terus menyebut nama Tasya. Semalam Alvin menanggis. Esok paginya Fayrica datang dia meminta maaf karena tak datang 2 hari. Alvin menyuruh Fay berjanji agar tak bilang tenteng penampilannya sekarang pada kedua orang tuanya. Rambutnya yang acak-acakan & matanya yang hitam karena menanggis. Tak lama kemudian Fayrica pulang, Alvinpun segera membenahi penampilannya sebelum suster datang. Seusai pemeriksaan ia berniat pergi ke makam Tasya yang dekat dengan rumah sakit.
Ia membawa sebuah keranjang bunga mawar merah dan merah mudah. Ia mencurahkan semua isi hatinya dan berdoa untuk Tasya. 2 jam tak terasa ia berada di sana. Ia memutuskan segera pulang sebelum pemeriksaan siang, Alvin tak ingn para dokter ngomel-ngomel padanya. Sesampainya di rumah sakit ia menyempatkan diri ke tempat dimana ia bertemu pertama kali dengan Tasya, ruang tunggu itu tak pernah berubah, tetap tenang seperti biasa, kecuali pengelihatannya tak salah.
Perlahan Alvin mengamati lelaki di ujung bangku, topi abu-abu menutupi rambut hitamnya “apa yang dia lakukan disini” gumamnya kesal. Lalu terdengar namanya di panggil “Rendi Agatha Putra”. Rendi berjalan pelan ke sumber suara, dan Alvin mendengarkan percakapanya dengan suster itu.
“maaf Rendi, sejauh ini kami terus mencari donor sum-sum buatmu. Memang ada, tapi itu tidak cocok. Sekali lagi kami minta maaf”
“em.. aku sakit loukimia stadium 4, perawatan intensif di sini hamper 6 th, sampai aku mendapat donor sum-sum tulang belakang yang sesuai aku akan terus tergantung dengan obat-obatan” kata-kata Tasya itu teringgat kembali, Alvin membelalakkan matanya tak percaya. Tak lama Rendi berjalan pulang. Alvin mengejarnya sambil berteriak “Rendi tunggu..!” Rendi menoleh, ia tak yakin dengan apa yang dilihatnya, “apa bener yang gue denger tadi, loe sakit Leokimia??” kata Alvin to the point. Rendi terlihat terkejut namun cepat berdalih “loe salah denger kali” katanya sambil tersenyum palsu. “loe gak perlu bo`ong, loe tahu kenapa gue di sini? Gue kena kangker Ren! Kangker!” kata Alvin tak sabar.
Pandangan Rendi kini tanpa ekspresi, perlahan ia menunduk dan berkata “ok gue jujur sama loe, tapi please rahasiain ini sama temen2, gue bakal lakuin hal yang sama buat loe..”
“terus Luna gimana?? Loe belum bilang ke dia, dia nungguin loe udah lama banget” kata Alvin separuh menyindir. “belum, Vin gue tahu loe suka sama Luna dari cara Loe liat gue waktu itu. Gue ga tahu sampai kapan gue bisa bertahan & ngerahasiain ini sama Luna. Satu yang gue tahu gue sayang banget sama dia!! gue pengen selalu sama dia, pengen banget!” katanya pasrah. “tenang aja sob gue percaya loe bakal selalu sama dia meski di hatinya, seperti orang yang baru aja gue kenal, bukan loe!” kata Alvin sambil tersenyum.
“gue ga nyangka dunia ini sempit, gue udah kenal banyak orang dengan penyakit kaya kita gini” kata Alvin sambil menggingat Tasya. “loe kelihatan terbiasa?” heran Rendi. “baru 3 hari gue kenal cewek dengan penyakit kaya loe yang meninggal kemaren dengan senyum bahagia, sejak itu gue udah ga pernah peduli sama yang namanya penyakit, gue ga takut mati” katanya puas. “loe sayang kan sama keluarga & temen loe?”Tanya Rendi, namun Alvin tak menjawab , hanya setetes air mata jatuh ke pipinya lalu dengan tersenyum ia mengangguk. “gue pengen sehat, banyak banget yang belum gue lakuin, terutama bahagiain Luna and kak Imel, gue ga pengen ninggalin kak Imel sendirian, dan gue terlalu sayang sama Luna, gue ga rela kalau harus pergi sekarang”lanjut Rendi.
Raut muka Alvin terlihat berpikir, lalu Rendi berpamitan pulang. Setelah Rendi melewati pintu keluar, Alvin pergi ke meja resepsionis dan kembali ke kamarnya dengan membawa beberapa lembar kertas.
Part 3 end
See you next time with WYA part 4

Kamis, 26 Januari 2012

malaikatku

Malaikatku
            Hari ini aku akan berkata pada dunia bahwa aku baik – baik saja, meskipun mungkin itu tidak benar. Sungguh seperti baru kemarin aku terbangun di rumah sakit. Saat takdir membuatku menjadi seorang gadis tanpa ibu harusnya aku yang pergi, karna masa kelam ini akan menjadi sedihku yang terbesar.
            Aku berhenti menulis saat fajar tiba, ku taruh buku diaryku di atas meja dan bergegas bersiap pergi ke sekolah. Usai mandi dan berganti baju kuraih tasku dan turun untuk sarapan, di bawah kulihat papa, kak Nova, Riko dan Rika sedang asyik makan, ku lihat juga nenek yang masih sibuk dengan urusan dapur. “ayo mel cepet makan, ntar telat.” kata kak Nova.
“iya kak”jawab gadis yang bernama Melody itu.
Skip story setelah aku makan mengambil sepeda kesayanganku di susul oleh  kak Nova, Riko dan Rika kedua adik kembarku yang masih duduk di kelas 4 SD. Kakak cepat melesat dgn motor CBR600-nya karena jarak SMA nya cukup jauh, kemudian kedua adikku dgn sepeda lucunya, kemudian aku dgn sepeda biru hitamku. Tak lama suara mobil ayah kudengar menjauh. Jarak sekolahku kurang lebih 2 KM, melewati perumahan dan lereng bukit kebun teh.
Normal POV
Saat sedang mengendarai sepeda sambil bersenandung kecil, Melodi melihat ibu – ibu paruhbaya membawa sekantong daun teh sedikit oleng hingga terjatuh. Melody segera turun dari sepedanya dan menolong orang itu, lalu ia melihat seseorang menolong memungut daun teh dan memperbaiki sepeda itu. Seseorang yang tak dikenal oleh Melody namun memakai seragam yang sama dengannya. Setelah ibu itu merasa baikan, ia pergi, lalu seseorang mengulurkan tangannya. Dia berkata “hai gue Andrean, gue baru di sini. loe dari SMP Bintang Rayakan, gue murid baru di sana” katanya. “hai juga gue Melody, loe pindahan dari Jakarta itu ya?” jawabnya sambil bersepeda beriringan dengan Andrean. “iya, Mel loe bisa panggil gue Ian, loe di kelas apa? Gue 7A” Tanya Andrean. “gue juga, kita sekelas” jawab Melody. Mereka terus ngobrol di jalan hingga sampai di parkiran.
“Gue harus pergi ke tempat kepsek nyerahin berkas tambahan, Loe mau nganter gue kan?” Tanya Ian. “PD banget loe, tapi kabetulan gue juga mau nyerahin berkas OSIS nich” jawabnya.
Skip time, saat sampai di depan ruangan bertuliskan R. Kepala Sekolah. Melody mengetuk pintu perlahan lalu terdengar jawaban “silahkan masuk” kata wanita itu. “Selamat pagi bu Rina” sapa Melody pada wanita yang dekat dengannya itu. “pagi Melody, dan kau pasti Andrean, selamat datang” sapanya. “iya bu Rina saya datang untuk nemberikan sisa berkas yang ibu minta” katanya dengan senyuman, “dan saya ingin memberikan berkas OSIS ini” sela Melody. “baiklah, terima kasih. Sekarang kalian bisa kembali ke kelas” jawabnya sambil memeriksa salah satu berkas. “terima kasih kembali bu Rina” jawab mereka bersama-sama. “ayo ke kelas” kata Ian, Melody mengangguk.
Mereka berjalan melewati ruang-ruang kusus hingga sampai di ruang VII-A. “ini dia ruang kelasku tercinta” katanya sambil membuka kenop pintu, teman sekelasnya terheran “Melody tersenyum lepas…?!” kata Diene yang seorang keturunan peramal. Saat Andean masuk mereka semua mencoba bersikap seperti biasa, namun Diene masih terpaku dengan beribu tanda Tanya. “hey.., Loe Andrean kan gue Raffi ketua kelas, ni Dika wakil gue, Melodi sekretaris, dan Cintya bendahara” sapa Raffi panjang lebar. “iya gue Andrean salam kenal” jawabnya. “oh ya loe bisa duduk sama Melody” kata Raffi lagi. “OK..! thank`s ya” jawabnya yang dib alas anggukan dari Raffi.
Tempat duduk Ian dan Melody tidak jauh dari Diene yang kini duduk terpaku dengan pena yang terlihat mencoret-coret bukunya sendiri, Melody menyadari pandangan aneh Ian, ia berkata “dia Diene, keturunan peramal. Dia sering duduk melamun mencoret-coret kertas kemudian timbul tulisan, tulisan itulah ramalannya, sering sekali tepat. Dulu ia pernah menulis ‘melody miracle win’ itu namaku di club musik, bahkan Diene tidak tahu itu. Seminggu kemudian gue ikut lomba music yang cukup bergengsi, dan gue menang . Padahal gue tahu saingan gue itu siapa” jelasnya panjang.
Kringgg…. (bel berbunyi) semia murid bergegas berbaris di luar, saat keluar Andrean sempat melihat tulisan di buku Diene ‘Melody`s Angel come for help and love’ dalam hati Andrean berkata “apa maksud `malaikat melody datang untuk menolong dan cinta` mungkin malaikat penolong Melody telah datang, memangnya Melody kenapa? Dan siapa?”
Saat pelajaran berlangsung Andrean sesekali memikirkan tentang tulisan Diene. Dari semua tulisan Diene hanya satu pertanyaan yang menjanggalnya “ada apa dengan Melody???”. Pak Agus yang sedari tadi menuliskan rumus matematikapun tiba-tiba duduk, mengemasi barangnya dan keluar kelas. “lho mel napa pak Agus kok udah keluar?” katanya pada Melody. “pak Agus emang gitu, bentar lagi istirahat. Tapi kalau tulisan ini belum selesai dia bakal marah, jadi cepetan nulisnya!” jawad Melody. Ian segera berpusat ke bukunya, menulis dengan kecepatan turbo (????). Hingga bell berbunyi Ian sudah selesai.
Melody, Cintya, Erica, Dika, Andrean, Ilham (macide) ngumpul di ruang music, tempat kesayangan mereka, sekaligus pengenalan Andrean sebagai anggota baru. Seperti biasa mereka berlatih beberapa lagu, dan setelah adanya Andrean sebagai pianis lengkap sudah “ The Guardian”.
Sementara itu di R.kepsek, Raffi sedang melaporkan tugasnya. Raffi memang di beri tugas memantau Melody dalam hal positif, ya.. Ibu Rina tak mau ambil resiko bila membiarkan Melody terus dalam tekanan karena kepergian ibu sekaligus sahabat karibnya Susan, bahkan di saat terakhir Susan sempat menyuruh Rina menjaga anaknya. “ma.. aku lihat Melody tadi tersenyum, bukan senyum palsu ma, melainkan senyum bahagia yang lepas” kata Raffi menjelaskan.“ iya mama tahu, kelihatannya itu karena anak baru bernama Andrean itu” kata bu Rina yang sebenarnya adalah ibu kandung Raffi, namun bu Rina menyuruh Raffi bertindak biasa dan tidak memangilnya mama saat ada lebih dari mereka yang mendengar. “menurutku juga begitu ma” jawab Raffi. “baiklah cukup makasih ya Raffi” kata bu Rina bernada seperti biasanya. “sama-sama kepala sekolahku bu Rina sayang” jawab Raffi sambil tersenyum dan membuat bu Rina tersipu, lalu ia pergi meninggalkan ruangan itu.
Klak suara almari dibuka, bu Rina mengeluarkan pigora kecil dengan foto dirinya dan Susan. Ia berkata “ Susan sesuai janjiku takkan kubiarkan anakmu menangis, dan akan ku tebus budi baikmu dan keluarganu, tunggu saja nanti” katanya pasti.
Dulu Susan dan Rina, teman akrab yang selalu bersama. Tolong menolong, saling membantu, bekerjasama, canda-tawa, dan banyak lagi yang mereka lalui bersama. Bahkan saat keluarga Rina bangkrut, Susan mau memberi bantuan dengan mengajak Rina dan keluargannya tinggal bersama dan menjalani bisnis dengan keluarga Susan, keluarga Susan juga menyekolahkan Rina hingga keuangan keluargannya kembali stabil, serta banyak hal lainnya, ayah Susan juga tidak pernah pilih kasih terhadap mereka. Mereka sangat bahagia.
Back to story:
Di ruang music kini Andrean dan Melody sedang berduet, grub music mengusulkan tim duet sekolah dan mereka setuju. Lantunan lagu indah berjudul “fallin love” memenuhi ruangan. Andrean juga langsung masuk tim basket atas usul Raffi sang kapten karena prestasinya. Dan jangan ditanya lagi fans Andrean sudah menyebar di tiap kelas. Bahkan namanya sudah pasti akan masuk di cover majalah sekolah bulan ini.
Beberapa minggu setelah kepindahannya, pak Yoga guru olahraga menyuruh membuat clipping olahraga berkelompok menurut bangku, dan tentu saja Andrean sekelompok dengan Melody. Andrean seenaknya saja memutuskan lokasi pembuatannya, rumah Melody. Tentu itu pilihannya karna ia akan mendapat nilai plus, 1: tugas selesai 2: makin tahu tentang Melody. Dan begitu juga dengan waktunya dengan rasa tanpa bersalah ia meminta hari Minggu jam 8. Komplit sudah rasa shock Melody karena rasa seenaknya dari temannya itu. Bahkan karena Melody cuek saat ditanya di mana rumahnya Ian mengikutinya sampai kerumahnya, Ian memang keras kepala `batin Melody`

Kamis, 29 Desember 2011

miracle

Miracle
By: super junior
Life couldn`t get better
Life couldn`t get better
       Jigumkaji no obdon shiganun Odumiojyo (with out you baby)
        Norul mannan hu naui senghwarun Kumman gathayo (baby)
  Norul chum bon sungan (chom bon sungan)
   A miracle (a miracle)
   Nan nukkyojyo gijogun Baro noragol
Chorus:
Life couldn`t get better (hey~) 
Nan nol pume ango nara
Purun darul hyanghe nara (ho~) 
Jamdun noui ib machul koya
Life couldn`t get better (hey~) 
Noui mame munul yoro jwo
Gude ne sonul jabayo
Life couldn`t get better

Meil meil pyongbomhetton nal duri Ijen dalla jyossoyo (a holiday)
Sesang modun saramduri Hengboghe boyoyo (I wanna thank you baby)
                    Norul chum bon sungan (chom bon sungan)
A miracle (a miracle)
 Nan nukkyojyo gijogun Baro noragol

Life couldn`t get better (hey~) 
Nan nol pume ango nara
Purun darul hyanghe nara (ho~) 
Jamdun noui ib machul koya
Life couldn`t get better (hey~) 
Noui mame munul yoro jwo
Gude ne sonul jabayo
Life couldn`t get better
(Life couldn`t get better)

Nol choum bon sungan a miracle (a miracle)
I love you baby and I`m never gonna stop

Life couldn`t get better (hey~)
Nan nol pume ango nara
Purun darul hyanghe nara (ho~) 
Jamdun noui ib machul koya
Life couldn`t get better (hey~)
Noui mame munul yoro jwo
Gude ne sonul jabayo
Life couldn`t get better

Life couldn`t get better (hey~) 
Nan nol pume ango nara
Purun darul hyanghe nara (ho~) 
Jamdun noui ib machul koya
Life couldn`t get better (hey~) 
Noui mame munul yoro jwo
Gude ne sonul jabayo
Life couldn`t get better
Life couldn`t get better, Life couldn`t get better

Balerina Cantikku


Balerina cantikku

          Alunan musik   klasik  yang merdu mengalun indah mengiringgi balerina yang sedang menari indah, dan saat gerakan terakhir, musik berhenti. Tepuk tangan dua orang yang sedari tadi melihatnya. “ bagus Vin, penampilan kamu semakin bagus saja” kata bu Ratih pelatih balet Vindy. “iya Vin, kamu hebat, aku seperti melihat malaikat menari” tambah Daniel pacar Vindy. “makasih bu, dan Daniel kamu lebai!!” kata Vindy. “ lho Vin aku serius, sungguh aku tadi terhipnotis dengan tarianmu” kata Daniel. “waktunya pulang ayo pulang” sahut bu Ratih sebelum Vindi menjawab, bu Ratih memeng sering melakukan itu karena bila dibiarkan mereka akan terus mengejek satu sama lain.

Vindi memang kursus balet empat kali seminggu, diantaranya Ia les privat dgn guru pribadi seperti sekarang. Vindi memang dikenal dgn tarian baletnya berbagai tropy dan medali menghiasi ruang – ruang di rumahnya. Sedangkan Daniel pemain basket yang hebat, ia juga seorang gitaris yang mahir mencipta lagu. Mereka sering dipanggil putri dan pangeran sekolah karena selain mereka membanggakan mereka juga diakui jenius.

Tiap minggu Daniel setia menemani Vindi latihan dan sebaliknya. Dengan mobil sport merah milik Daniel mereka melesat meninggalkan bu Ratih yang di jemput oleh pak Putra guru olahraga sekaligus suami bu Ratih.

“Vin kita jalan dulu yuk! Udah lama nich gak ke café choco lover” ajak Daniel tiba – tiba. “boleh juga tuch, sekalian ya nanti kita ke mall bentar aja” jawab Vindi. “iya, tapi kamu pamitan dulu aja. Telpon atau sms tante widya” katanya mengingatkan. “ni baru aja aku sms, kamu ada lomba band kan minggu depan?” kataVindi sambil mengutak atik ponsel pinknya. ”bukan lomba besar, hanya lomba yang diadakan sekolah daerah sini aja” jawabnya santai. “tetep aja itu lomda, kalau menang bangga, kalau kalah malu” jawabnya agak ketus. “aku tahu, sebulan lagi kamu juga ada lomba antar sekolah kan?” katanya. “iya, eh udah deket ya?” tanyanya. “udah sampai kale” kata Daniel dengan nada mengejek.

Setelah turun dari mobil Vindi berlari kecil menyapa seseorang yang di kenalnya. “mbak Laila, apa kabar?” sapanya pada pemilik café itu. “eh.. Vindi sudah lama gak mampir ke sini, mbak baik” jawab Laila ramah. “maen tinggal aja, aku kira kamu hilang.. eh malah ngobrol di sini” kata Daniel sewot karena di tinggal. Vindi segera minta maaf karena Daniel yang suka ngambek kayak anak kecil, sedangkan mbak Laila hanya tersenyum geli melihat mereka. Tak lama kemudian mereka baikan lalu duduk di tempat kesukaan mereka dan melihat menu.

“eh liat deh.. ada menu baru chocolate love, apa`an ni mbak kok kayak lagu korea?” celetuk Vindi. “namanya emang terinspirasi dari lagu itu tapi chocolate love ini coklat berlapis dengan rasa yg beda. Maksudnya tuch cintakan rasanya beda-beda, bkin seneng, sedih, dalau dll. Lapisan terbawah Belgian, trus coklat rasa sroberi, coklat putih, coklat keju, dan es krim” jawab mbak Laila. “wiiihhh kayaknya enak tu mbak pesen 2 dong.. hehe” kata Daniel semangat. “trus apa lagi?” kata mbak Laila sambil menulis pesanan. “hot chocolate.. lho.. eh.. hahaha..” kata mereka bersama-sama. “wihh kompak banget sich?” sindir mbak Laila. “iya dong mbak” jawab Vindi. “oke..oke 2 chocolate love & 2 hot chocolate, ada lagi?” kata mbak Laila memastikan. “ga ada mbak ini aja cukup” jawab Daniel santai. “oke tunggu sebentar yaa!” kata mbak Laila dengan nada ramah.

Sementara mbak Laila pergi Vindi dan Daniel ngbrol ditemani suara piano yang merdu oleh kak Divo, serta lantunan lagu dari kak Karina pagawai café yang juga dekat dengan mereka. Café choco memang merupakan café andalan mereka, bahkan café ini awal perkenalan resmi mereka, melewatkan waktu disini merupakan kebiasaan mereka. Tak lama menunggu pesanan datang, tanpa tunggu waktu lagi mereka melahap makanan mereka. Tiba-tiba ponsel Daniel bordering, awalnya dibiarkan oleh Daniel namun akhirnya Vindi memaksa Daniel mengangkatnya dan Daniel menurut.

 “huff.. ini Niko, pasti hal yang ga jelas lagi” umpatnya. “sudahlah Dan angkat saja dulu” rayu Vindi lagi agar mau mengangkat telponnya. “baik-baik. Halo ada apa?” katanya mulai bicara. “lama buangetss si bro capek ni!” keluh Niko nan jauh di sana (?). “Gue lagi makan, kalau ga ada yang penting ga usah ganggu dech” jawab Daniel ketus karna acara makannya di ganggu. “eits…. Jangan dulu boss, penting ni. Kata panitia lomba band kali ini menggunakan system gugur, katanya sich biar seru & agak lama`an dikit, dan kita ga bakal ketemu sama Scorpio Boys di grub A. mereka di B. kalau band lainya bisa loe lihat di e-mail loe, udah gue kirim.” Jelasnya panjaaaaaang melebihi panjang kereta padahal Daniel males-malesan dengernya.

 “udah?”ketus Daniel. “udah si broo, tapi….”omongan Niko terputus saat Daniel mengakhiri telpon lalu mematikan ponselnya dan memasukkannya dalam saku. “ayo lanjutkan makannya, gak ada kabar penting sama sekali” kata Danel.

“jangan muram gitu dong! Senyum dikit please” bujuk Vindi. Akhirnya senyum tipis muncul di wajah Daniel. Tak butuh waktu lama bagi mereka menghabiskan makanan mereka. Seusai makan mereka bergegas pergi ke kasir membayar makanan mereka lalu melesat keluar dan menuju parkiran.

Daniel membukakan pintu untuk Vindi, dan sekejap ia berlari  untuk masuk ke tempatnya. “gimana Vin jadi ya ke mall, sekalian ni pengen beli sepatu” kata Daniel kembali ke moodnya. “iya ntar aku bantu milih, aku juga pengen beli boneka  & gaun atau baju balet baru” kata Vindi.

Kamis, 17 November 2011

With You Always part 2
       Esok paginya..
Luna terbangun karna merasa tubuhnya diguncang – guncang, saat Ia membuka matanya kak Kiki sedang berbicara agak keras “Luna bangun Lun, uda pagi nih..!! cepet mandi hari ini kan hari pertama pendaftaran!!” lalu Luna menjawab “iih kakak aku da tau hari ini pendaftaran, tapi aku males soalnya Rendi ga ikut” jawabnya lesu “kenapa? Oh ya, aku blom dapat PJ lho!!” tanya kak Kiki, Luna hanya diam lalu “kak Rendi akan nerusin sekolah di Jakara ikut kak Imel..” “kakak da tauu!” sela kak Kiki, “Imel cerita kalau bakal kuliah di Jakarta demi beasiswa dan pekerjaan.. tapi kamu harus semangat & percaya sama Rendi, dan cepetan mandi !!!” lanjutnya dengan ekspresi yang berbeda – beda.
Luna POV
Aku berjalan lemas ke kamar mandi, dan juga mempercepat mandiku karna aku hamper terlambat. Setelah mandi dan ganti baju aku segera menyiapkan barang bawaanku. Ku lihat ponselku berbunyi, itu telfon Rendi dan segera ku angkat.
“halo.. da apa atha” (atha : panggilannya Rendi dari namanya Rendi Agatha putra)
“loha, ara ingat jangan beritahu mereka kepergianku sampai nanti malam” (ara : panggilannya Luna dari namanya Laluna Clara Putri )
“iya aku ingat, telfon aku yah.. aku akan mengantar kepergianmu”
“aku tahu, sudah siap untuk pendaftaran bukan?”
“udah kok, tinggal menunggu mereka” lalu terdengar “Lun cepetan temenmu udah nungguin”
“ nah tuh da dateng, have a nice day ya ara”
“sulit tanpamu.. atha.. Udah yah bye..”
“bye”
Aku menutup telfon lalu berlari kecil menuruni tangga, dan kulihat teman – teman menungu di balik pintu. Aku berpamitan pada kak Kiki, dan segera berangkat.
Normal POV
Karena jarak sekolah tidak jauh mereka berangkat dengan sepeda, lalu Farel bertannya “Lun, Rendi mana???” “iya, kok ga` ikut??” tambah Sandra.
“Rendi, dia emmmm….. dia ada urusan ga bisa ikut kita hari ini” jelas Luna “oooooohh…….” Jawab keduannya kompak.
Setelah 15 menit mereka sampai di sekolah yang besar dan ramai, sesegera mungkin mereka mrndaftarkan diri. Setelah menuggu panggilan untuk tes, mereka pulang dan tinggal menunggu telfon. Sore harinya luna menggirim sms ke sahabatnya “guys nanti malem jam 19.00 kita bertemu di dermaga ada urusan penting, PENTING!!!!!”
Satelah menggirim sms itu Luna mematikan ponselnya dan pergi ke pusat kota. Setelah 2 jam pergi, Luna kembali dengan membawa tas kecil. Karna sudah jam 17.00 ia bergegas mandi dan bersiap – siap. Setelah selesai dgn urusannya jam menunjukkan pukul 18.30. lalu Ia menghidupkan ponselnya dgn 10 sms pertanyaan dari 2 tmnnya yg hanya diabaikan, Ia berniat berangkat lebih awal. Luna berpamitan pada kedua orang tuannya yg baru saja pulang.
Saat Luna sampai kapal yg akan di naiki Rendipun belum tiba. 5 menit berlalu sampai ia mendengar namanya di panggil. “Rendi” ucapnya lirih. “sudah lama? Mana yg lain?” tanyanya “tidak… belun” jawab Luna. “ooo…” tanggap Rendi dgn memaksakan senyum.
“emmm….Ren, ini untukmu bukalah saat sudah sampai” ucap Luna sambil memberikan tas yg dibawanya. “Rendi Luna” teriak Sandra & Farel “jadi kalian memang dgn memaksakan senyum.
“emmm….Ren, ini untukmu bukalah saat sudah sampai” ucap Luna sambil memberikan tas yg dibawanya. “Rendi Luna” teriak sahabatnya “jadi kalian memanggil kami karena ingin member tahu kalian jadian?” tanbah Farel, “tapi mengapa tasmu besar sekali Ren?” Tanya Sandra heran. Luna hanya diam.
“emmm…begini (Rendi menjelaskan tentang kepergiannya)” jelasnya, kedua temanya hanya diam, kemudian Farel menganbil gantungan ponselnya yg terbuat dari emas putih dgn lambang huruf “BF” (best friend) dan memberinya pada Rendi, “nih buat kenang- kenangan” katanya. Zara pun mengambil buku dgn judul “forever” dari tasnya, Sandra mengambil flashdisk dan berkata “didalamnya ada video, foto, lagu yg kita ciptakan bersama dan semua tentang kita, aku sudah punya copynya di rumah”, dan Neza memberikan bola basketnya pada Rendi. Rendi tersenyum “terima kasih, kalian luar biasa” lalu terdengar “fuuu..fuuu”. “Ren, itu kapal kita” kata kak Imel sambil berlari ke arah Rendi. Rendi memeluk 4 sahabatnya dan terakhir ai memeluk Luna, lalu segera menaiki kapal yg telah menunggu.
Terlihat Rendi melambaikan tangannya, lalu semakin jauh dan menghilang. Hanya Luna yang masih berdiri di situ, memandang luas laut hingga matahari terbenam. Luna pulang dengan pikiran galau, ia tak tahu apa yang akan terjadi tanpa Rendi.
Hari libur seminggu buat Luna sangat berat, ia coba menyibukkan harinya dengan membuat lagu – lagu sedih tentang ia dan Rendi, berkumpul dgn sahabatnya dan bermain basket. Luna juga selalu menceritakan hal yang terjadi padanya kepada Rendi seperti diary dan sebaliknya.
Waktu masuk sekolah
Tahun ini mos gabung dengan kegiatan pembelajaran atau materi. Luna memasuki kelas X A, sedangkan Sandra dan Farel X B. jam pertama dimulai dengan perkenalan yang menyangkut hal terkecil sekalipun tanpa terkecuali. Luna mendapati 3 orang yang hoby basket yaitu Alvin, Rakka dan Lia. 2 orang yang hoby menyanyi Alvin dan Citra, dan Luna merasa mereka akan teman baiknya.
Skip bel istirahat
“ hai namamu Luna kan?? Aku Alvin dan ini Rakka” Tanya Alvin pada Luna yang sedang ngobrol dengan Lia dan Citra (ganggu orang ngobrol aja lu Vin, Takk.. dilempar kursi). “ah.. iya hai juga Alvin, Rakka” merekapun asyik ngobrol sampai bel masuk. Dan waktu istirahat kedua mereka berlima, Sandra, Farel dan teman baru mereka ngumpul di kantin. Hari – hari dilewati mereka semakin akrap terutama Alvin dan Luna, karena memang diam – diam Alvin menaruh hati pada Luna. Alvin memang tidak tahu mengenai Rendi, dan Luna tidak tahu menganai peradaan Alvin.
Begitu banyak hal yang dilalui Luna dan Rendi tidak membuat Ia melupakan Rendi, dalam hatinya tetep hanya Rendi. Berulang kali Alvin memberi tahu perasaannya namun hanya di angap angin lalu. Hingga pada akhirnya sitelah dua tahun mencoba dan tiga kali ditolak dengan senyuman polos dari Luna membuat Alvin curiga. Sandra dan Farel merasa kasihan dan menceritakan semua tentang Rendi kepada Alvin. Alvinpun mengerti, saat hal aneh terjadi pada Rendi.
Senin, 4 juni 2012. Pukul 00.03
Dear diary
Hari ini tepat satu bulan aku hilang kontak sama sekali dengan Rendi, hari ini juga tepat dua tahun Rendi pergi. Mungkinkah Rendi telah berpaling?? Atau sesuatu yang buruk terjadi?! Semoga esok aku bisa kembali kontak dengannya.
Kemarin Luna mendengar hari ini akan ada murid pindahan dari sekolah musik di Jakarta. Luna berharap itu teman Rendi karena sampai saat ini Luna tak dapat menghubunggi kekasihnya itu, dan terus merasa curiga. Luna beruntung anak itu berasal dari sekolah yang sama dengan Rendi. Pagi ini Ia berjalan pelan namun pasti ke kelasnya, ia berharap akan mendapat jawaban.
Bel berbunyi dan kelas dimulai sesaat setelah ia sampai, tak dilihatnya sosok yang berbeda, dan kegelisahannya dirasakan oleh Alvin. “ada apa Lun? Apa sesuatu yang gawat terjadi?” Tanya Alvin. “ahh.. tidak Vin, aku baik” jawabnya asal. “kulihat tidak begitu kau sangat gelisah” katanya lagi. “aku baik Vin sungguh” jawabnya agak keras membuat Alvin mengerti Luna tidak mau diganggu.
“pagi anak – anak maaf saya terlambat, kalian kedatangan teman baru” kata pak santoso sambil memegang pundak seorang anak laki – laki dengan pakaian rapi, berambut hitam. Terlihat sangat modis, namun misterius dengan topi menutupi matanya. Beberapa teman cewekku histeris akan kedatangannya. Luna merasa aneh, ia merasa mengenal anak itu, namun pikiran itu ditepisnya.
“nah silahkan perkenalkan dirimu” kata pak santoso. “iya pak” jawabnya. Sesaat Luna tersentak, ia yakin dengan suara itu. Matanya tidak berkedip mencoba mengamati sosok di balik topi itu.
“namaku Rendi Agatha Putra” katanya polos.
“di..i..aa..Re..e..n..di..” bisik Luna terbata – bata. Alvin yang duduk bersebrangan dengan Luna mendengar kata itu, segera ia mengamati sosok Rendi.
“dulu aku tinggal di daerah sini, lalu pindah ke Jakarta dan kemudian sekarang aku kembali. Aku tinggal di jln. Pertiwi 3, blok E, desa cemara dekat pelabuhan. Aku suka bermain music, aku bisa memainkan piano, gitar dan biola. Aku rasa cukup, terimah kasih” jelasnya panjang lebar.
“baik, Rendi kau bisa duduk di sebrang Luna, Luna angkat tanganmu” kata pak santoso. Luna yang sedari tadi memandang Rendi kemudian berkata “tak perlu pak, saya ragu Rendi lupa dengan saya” katanya. Pak santoso hanya mengangguk tanda mengerti. Rendi berjalan ke arah Luna yang memandangnya marah lalu berkata “maaf ara, akan kuceritakan semuannya nanti” lalu duduk.
Skip istrahat
Rendi menarik lengan luna lembut mengajaknya ke taman belakang, di sana ia menceritakan semuanya mulai dari kemana saja ia sebulan terakhir, mengapa ia kembali lebih cepat, dan semuanya.
Luna akhirnya mengerti dan ia kembali menjadi gadis manis seperti sebulan yang lalu. Namun tanpa di sadari Alvin sedari tadi menguping pembicaraan mereka, dan saat bel masuk berbunyi ia berlari dgn raut muka kecewa meninggalkan mereka.
bakal lanjut kok sabar ya....