Kamis, 10 Mei 2012

tugas tugasku







metode-metode pemisahan campuran






A. Pengertian Pengayakan
Pengayakan merupakan pemisahan berbagai campuran partikel padatan yang mempunyai berbagai ukuran bahan dengan mengunakan ayakan. proses pengayakan di sebut juga sebagi alat pembersih, pemisah kontaminan yang ukurannya berbeda dengan bahan baku. Pengayakan memudahkan kita untuk mendapatkan tepung dengan ukuran yang seragam. Dengan demikian pengayakan juga dapat di definisikan sebagai suatu metoda pemisahan berbagai campuran partikel padat sehingga didapat ukuran partikel yang seragam dan terpisah dari kontaminan yang memiliki ukuran berbeda dengan menggunakan alat pengayakan.
Pengayakan dengan berbagai rancangan telah banyak digunakan dan dikembangkan secara luas pada proses pemisahan bahan-bahan pangan berdasarkan ukuran. pengayakan yaitu pemisahan bahan berdasarkan ukuran mesin kawat ayakan, bahan yang mempunyai ukuran lebih kecil dari diameter mesin akan lolos dan bahan yang mempunyai ukuran lebih besar akan tertahan pada permukaan kawat ayakan. Bahan-bahan yang lolos melewati lubang ayakan mempunyai ukuran yang seragam dan bahan yang tertahan dikembalikan untuk dilakukan penggilingan ulang (Ir. Suharto, 1998).
Yang menjadi ciri ayakan antara lain adalah :
a.       Ukuran dalam mata jala
  1. Jumlah mata jala (mesh) per satuan panjang, misalnya per cm atau per inchi (sering sama dengan nomor ayakan).
  2. Jumlah mata jala per setuan luas, umumnya per cm2.
Screening atau pengayakan secara umum merupakan suatu pemisahan ukuran berdasarkan kelas-kelasnya pada alat sortasi. Namun pangayakn juga dapat digunakan sebagai alat pembersih, memindahkan kontaminan yang ukurannya berbeda dengan bahan.
Pengayakan merupakan satuan operasi pemisahan dari berbagai ukuran bahan untuk dipisahkan kedalam dua atau tiga praksi dengan menggunakan ayakan. Setiap praksi yang keluar dari ayakan mempunyai ukuran yang seragam (Fellow, 1988).
B. Macam-macam alat Pengayakan
Berbagai jenis alat pengayak yang dapat digunakan dalam proses sortasi bahan pangan, diklasifikasikan dalam dua bagian  besar :
1.  Ayakan dengan celah yang berubah-ubah (Screen Apeture) seperti : roller screen
(Pemutar), belt screen (kabel kawat atau ban), belt and roller (ban dan pemutar), screw (baling-baling).
2.  Ayakan dengan celah tetap, seperti : stationary (bersifat seimbang/tidak berubah), vibratory (bergetar), rotary atau gyratory (berputar) dan recipro cutting (timbale balik).
Untuk memisahkan bahan-bahan yang telah dihancurkan berdasarkan keseragaman ukuran partikel-partikel bahan dilakukan dengan pengayakan dengan menggunakan standar ayakan.
Standar kawat ayakan dibagi :
1. Tyler Standar, ukuran 200 mesh, diameter 0,0029 inci, dan SA 0,0021 inci.
2. British Standar, ukuran 200 mesh, SA 0,003 inci, dan SI 4√2.
3. US Standar, ukuran 18 mesh, SA 1 mm, dan SI 4√2.
Pengayak (screen) dengan berbagai desain telah digunakan secara luas pada proses pemisahan bahan pangan berdasarkan ukuran yang terdapat pada mesin-mesin sortasi, tetapi pengayak juga digunakan sebagai alat pembersih, pemisahan kontaminan yang berbeda ukurannya dari bahan baku. Rancangan-rancangan pengayak ditemui dalam proses sortasi bahan pangan.
Pengoperasian mesin sortasi dan pengkelasan mutu bahan pangan, juga merupakan pekerjaan yang bersifat monoton. Sifat acuh tak acuh dari tenaga kerja akan mengurangi kesalahan fungsi fungsional saat mengoperasikan peralatan sortasi.
Klasifikasi tersebut sangat bermanfaat tetapi tidak bersifat kaku. Proses pembersihan dan sortasi untuk menghasilkan suatu pengkelasan mutudan beberapa kasus selalu melibatkan proses sortasi. Bagaimanapun, tingkatan operasi tersebut sangat berarti, terutama dalam penerapannya sebagai tujuan utama dari suatu kegiatan (Brennan, 1968).
gambar pengayakan
2. Dekantir
Pengertian Dekantasi atau dekantir - Dekantasi adalah proses pemisahan zat pada yang tidak ikut terlarut di dalam pelarutnya dengan cara dituangkan, sehingga akibatnya cairan tersebut akan terpisah dari zat padat yang tercampur.
contoh pemisahan dekantir: pemisahan air dan pasir
Proses pemisahan menggunakan metode dekantir yaitu dengan mengenapkan semua endapan, kemudian menuang hati-hati cairan di atas endapan sehingga endapan tetap tinggal dl wadah semula. Dengan demikian campuran yang berupa padatan dan campuran akan terpisah.
Dekantir merupakan proses pemisahan campuran yang sangat berguna untuk kehidupan sehari – hari. Dekantir juga sering digunakan dalam proses – proses kimia maupun ilmiah. Dekntir disebut juga dekantasi atau dekanter.


images.jpeg
3.Filtrasi

         Penyaringan adalah cara pemisahan campuran berdasarkan perbedaan ukuran dari partikel-partikel komponen campuran. Penyaring yang digunakan harus memiliki pori yang ukurannya lebih kecil dari ukuran partikel salah satu komponen penyusun campuran, tetapi lebih besar dari komponen yang lainnya. 


Sebagai contoh, kita memiliki campuran heterogen antara zat padat dan cairan di mana ukuran partikel zat padat lebih besar dari ukuran partikel zat cair. Untuk memisahkan keduanya, kita dapat menggunakan penyaring yang memiliki ukuran pori lebih kecil dari ukuran partikel zat padat dan lebih besar dari ukuran partikel zat cair. Dengan demikian, kertas saring dapat dilewati oleh partikel cairan, tetapi tidak dapat dilewati oleh partikel zat padat. Hasil dari penyaringan berupa zat padat yang tertinggal di atas kertas saring (residu atau ampas) dan cairan yang tertampung dalam wadah (filtrat). Bahan penyaring yang biasa digunakan di laboratorium adalah kertas saring.

            Metode ini dimanfaatkan untuk membersihkan air dari sampah pada pengolahan air, menjernihkan preparat kimia di laboratorium, menghilangkan pirogen (pengotor) pada air suntik injeksi dan obat-obat injeksi, dan membersihkan sirup dari kotoran yang ada pada gula. Penyaringan di laboratorium dapat menggunakan kertas saring dan penyaring buchner. Penyaring buchner adalah penyaring yang terbuat dari bahan kaca yang kuat dilengkapi dengan alat penghisap.



4.   Destilasi
Distilasi adalah seni memisahkan dan pemurnian dengan menggunakan perbedaan titik didih. Distilasi memiliki sejarah yang panjang dan asal distilasi dapat ditemukan di zaman kuno untuk mendapatkan ekstrak tumbuhan yang diperkirakan dapat merupakan sumber kehidupan. Teknik distilasi ditingkatkan ketika kondenser (pendingin) diperkenalkan. Gin dan whisky, dengan konsentrasi alkohol yang tinggi, didapatkan dengan teknik yang disempurnakan ini.
Pemisahan campuran cairan menjadi komponen dicapai dengan distilasi fraksional. Prinsip distilasi fraksional dapat dijelaskan dengan menggunakan diagram titik didih-komposisi (Gambar 12. 1). Dalam gambar ini, kurva atas menggambarkan komposisi uap pada berbagai titik didih yang dinyatakan di ordinat, kurva bawahnya menyatakan komposisi cairan. Bila cairan dengan komposisi l2 dipanaskan, cairan akan mendidih pada b1. Komposisi uap yang ada dalam kesetimbangan dengan cairan pada suhu b1 adalah v1. Uap ini akan mengembun bila didinginkan pada bagian lebih atas di kolom distilasi (Gambar 12.2), dan embunnya mengalir ke bawah kolom ke bagian yang lebih panas. Bagian ini akan mendidih lagi pada suhu b2 menghasilkan uap dengan komposisi v2. Uap ini akan mengembun menghasilkan cairan dengan komposisi l3.
Jadi, dengan mengulang-ulang proses penguapan-pengembunan, komposisi uap betrubah dari v1 ke v2 dan akhirnya ke v3 untuk mendapatkan konsentrasi komponen A yang lebih mudah menguap dengan konsentrasi yang tinggi.
Gambar 12.1 Diagram titik didih- komposisi larutan ideal campuran cauran A dan B. Komposisi cairan berubah dari l1 menjadi l2 dan akhirnya l3. Pada setiap tahap konsentrasi komponen B yang kurang mudah menguap lebih tinggi daripada di fasa uapnya.Contoh soal 12.1 Distilasi fraksional Tekanan uap benzen dan toluen berturut-turut adalah 10,0 x 104 N m-2 dan 4,0 x 104 N m-2, pada80°C. Hitung fraksi mol toluen dalam uap yang berada dalam kesetimbangan dengan cairan yang terdiri atas 0,6 mol toluen dan 0,4 molar benzen. Hitung fraksi mol toluen x dalam fas uap.Jawab Dengan bantuan hukum Raoult (bab 7.4(b)), komposisi uapnya dapat dihitung sebagai berikut. Jumlah mol toluen di uap /jumlah mol benzen di uap = [0,60 x (4,0 x 104)]/[0,40 x (10,0 x 104)] = 0,60.
Fraksi mol toluen di uap x adalah: x/(1 – x) = 0,60; x = 0,60 / (1,0 + 0,60) = 0,375.
Bila dibandingkan dengan komposisi cairan, konsentrasi toluen di fasa uap lebih besar menunjukkan bahwa adanya pengaruh distilasi fraksional.Kolom distilasi yang panjang dari alat distilasi digunakan di laboratorium (Gambar 12.2) memberikan luas permukaan yang besar agar uap yang berjalan naik dan cairan yang turun dapat bersentuhan. Di puncak kolom, termometer digunakan untuk mengukur suhu fraksi pertama yang kaya dengan komponen yang lebih mudah menguap A. Dengan berjalannya distilasi, skala termometer meningkat menunjukkan bahwa komponen B yang kurang mudah menguap juga ikut terbawa. Wadah penerima harus diubah pada selang waktu tertentu.
Bila perbedaan titik didih A dan B kecil, distilasi fraksional harus diulang-ulang untuk mendapatkan pemisahan yang lebih baik. Produksi minyak bumi tidak lain adalah distilasi fraksional yang berlangsung dalam skala sangat besar.


d.       
5.   Corong Pisah

Corong pemisah. Lapisan eter dengan zat terlarut yang berwarna kuning di bagian atas dan lapisan air di bawahnya.
Corong pemisah atau corong pisah adalah peralatan laboratorium yang digunakan dalam ekstraksi cair-cair untuk memisahkan komponen-komponen dalam suatu campuran antara dua fase pelarut dengan densitas berbeda yang takcampur. Metode ini digunakan untuk memisahkan dua jenis zat cair yang berbeda massa jenisnya.
Umumnya salah satu fase berupa larutan air dan yang lainnya berupa pelarut organik lipofilik seperti eter, MTBE, diklorometana, kloroform, ataupun etil asetat. Kebanyakan pelarut organik berada di atas fase air keculai pelarut yang memiliki atom dari unsur halogen.
Corong pemisah berbentuk kerucut yang ditutupi setengah bola. Ia mempunyai penyumbat di atasnya dan keran di bawahnya. Corong pemisah yang digunakan dalam laboratorium terbuat dari kaca borosilikat dan kerannya terbuat dari kaca ataupun Teflon. Ukuran corong pemisah bervariasi antara 50 mL sampai 3 L. Dalam skala industri, corong pemisah bisa berukuran sangat besar dan dipasang sentrifuge.
Untuk memakai corong ini, campuran dan dua fase pelarut dimasukkan ke dalam corong dari  atas dengan corong keran ditutup. Corong ini kemudian ditutup dan digoyang dengan kuat untuk membuat dua fase larutan tercampur. Corong ini kemudian dibalik dan keran dibuka untuk melepaskan tekanan uap yang berlebihan. Corong ini kemudian didiamkan agar pemisahan antara dua fase berlangsung. Penyumbat dan keran corong kemudian dibuka dan dua fase larutan ini dipisahkan dengan mengontrol keran corong.




  

6. Kromatografi


gambar Hasil Kromatografi
Kromatografi merupakan cara pemisahan campuran menjadi komponen-komponen zat penyusunnya berdasarkan perbedaan kecepatan zat-zat tersebut bergerak bersama-sama dengan pelarutnya pada permukaan suatu benda penyerap. 


 


Gambar proses kromatografi
Dengan cara ini, zat-zat terlarut akan disebarkan di sepanjang permukaan benda penyerap oleh pelarut yang bergerak di sepanjang permukaan tersebut. Campuran yang berupa cairan dapat dipisahkan menjadi komponen-komponen penyusunnya dengan cara ini. Kamu dapat mengetahui bahwa cairan tinta yang tampaknya seperti hanya satu warna saja, jika diuji secara kromatografi akan tampak tersusun atas dua atau lebih komponen zat yang ditunjukkan oleh timbulnya warna yang berbeda.
Macam – macam Kromatografi
a.       Kromatografi kolom (digunakan untuk memisahkan pigmen pada tumbuhan)
b.      Kromatografi kertas (digunakan untuk memisahkan warna – warna yang terdapat pada bahan pewarna)
c.       Kromatografi lapis tipis (hampir sama dengan kromatografi kertas bedanya menggunakan pelat tipis dari plastic atau gelas)
d.      Kromatografi gas



7.   Sublimasi
Teknik sublimasi dilakukan untuk memisahkan zat yang menyublim ketika dipanaskan atau memisahkan campuran zat yang mudah menyublim dengan pengotornya, seperti kamfer dan iodium. Iodium yang tercampur dengan pengotor dapat dimurnikan kembali dengan teknik sublimasi. Sublimasi dapat memisahkan campuran yang mengandung ammonium klorida dan natrium klorida.




Gambar alat sublimasi
Kristal yang mengandung iodium dan pengotornya disimpan dalam gelas tertutup dan di atas tutupnya disimpan es batu sebagai pendingin. Kemudian dipanaskan sehingga menyublim. Uap iodium yang tidak mengandung kotoran akan membeku kembali pada bagian tutup dan pengotornya tetap berada di bagian dasar gelas.






8. Sentrifugasi
Sentrifugasi merupakan suatu metode yang digunkan dalam pencapaian sedimentasi dimana partikel-partikel yang ada di dalam suatu bahan yang dipisahkan dari fluida oleh gaya sentrifugasi yang dikenakan pada partikel. Dalam hal ini, partikel yang dimaksud adalah solid, gas, atau liquid dan fluida. Dalam pengunaan metode sentrifugasi ini, terdapat sebuah alat yang penting. Alat yang diperlukan dalam metode ini adalah Sentrifugase. Metodde sentrifugasi dimaksudkan agar segala bentuk proses pemisahan zat dapat dipercepat. Hal ini sebagai jawaban atas lamanya waktu yang diperlukan dalam proses pemisahan zat jika dengan cara alamiah.
Dalam metode sentrifugasi, prinsip yang digunakan yaitu dimana objek diputar secara horizontal pada jarak radial dari titik dimana titik tersebut dikenakan gaya. Pada saat objek diputar, partikel-partikel yang ada akan berpisah dan berpencar sesuai dengan berat jenis masing-masing partikel. Gaya yang berperan dalam proses teknik sentrifugasi ini yaitu gaya sentrifugal. Dengan adanya teknik ini, proses pengendapan suatu bahan akan lebih cepat dan optimum dibandingkan dengan menggunakan teknik biasa. Prinsip sentrifugasi ini dapat bekerja secara optimum jika para pengguna dapat memasukkan nilai RPM dan nilai konsentrasi yang tepat kedalam alat sentrifugasi.
Cara pengoperasian alat sentrifugase dalam metode ini terbilang tidak terlalu sulit. Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan alat tersebut yaitu sistem konsentrasi yang ingin dimasukkan ke dalam alat sentrifugasi dan kecepatan putar alat. Dalam proses penggunaannya, yang dilakukan pertama kali yaitu pengguna memasukkan nilai konsentrasi (%) dari endapan yang diinginkan. Kemudian pengguna memasukkan nilai RPM kedalam alat sentrifugasi. Setelah nilai konsentrasi dan RPM selesai dimasukkan, maka alat sentrifugse secara otomatis akan berjalan. Sebelumnya, alat sentrifugase akan mengeluarkan nilai waktu putar(t) sebelum alat berputar. Kemudian alat akan bekerja secara otomatis dan jika konsentrasi yang diinginkan telah tercapai sebelum waktu yang telah ditentukan, maka simulasi secara otomatis akan berhenti. Namun jika konsentrasi belum tercapai, maka simulasi akan dengan otomatis menambahkan waktu putar.


Di dalam mesin sentrifugase, terdapat suatu sensor yang digunakan untuk mengukur konsentrasi cairan yang dihasilkandari proses sentrifugasi. Yaitu sensor konsentrasi. Diantara sensor yang ada dipabrikan, diantaranya yaitu sensor Swagelok CR-288 seperti pada gambar disamping ini. Sensor ini sangat berperan penting dalam penentuan konsentrasi endapan yang diinginkan oleh si pengguna. Sensor ini juga memberikan kebudahan kepada si pengguna dalam menentukan ketepatan waktu yang diperlukan dalm mencapai suatu titik konsentrasi tertentu dlam proses sentrifugasi.

Selasa, 17 April 2012

pengetahuan pramuka




 kunci morse


A         : Ano                                      
B         : Bonaparte
C          : Coba-coba
D         : Dominan
E         : Egg
F         : Father Jonan
G         : Golongan
H         : Himalaya
I          : Islam
J          : Jago Loro
K         : Komando
L         : Limonade
M        : Motor
N         : Notes
O         : Omono
P          : Pertolongan
Q         : Qomokaro
R         : Rasohe
S          : Sahara
T          : Tong
U         : Unesco
V         : Versikaro
W        : Winoto
X         :Xosendaro
Y         : Yosimono
Z         :Zoro Aster

Masih belum jelas ?? atau ada yang ditanyakan??, bisa hubunggi saya di: reza.fajar23@rocketmail.com
Atau langsung beri komentar di blog ini.
Folded Corner: Nama  : Reza Dwi Fajar K.
Sekolah: SMPN 1 Sumobito
e-mail  : reza.fajar23@rocketmail.com
Pesan : saya menulis ini untuk panduan mudah menghafal morse & sandi rumput. Saya selaku anggota DP SMPN 1 Sumobito  ingin agar pramuka menjadi mudah dan menyenangkan untuk semua kalangan.Semoga bisa membantu dan terima kasih..

malaikatku

Malaikatku  part 2
07.45 di rumah Melodi
Melody POV:
“Mel temenmu nyariin tu…” kata papa dari ruang tamu. “ia pa bentar” sahutku yang lagi asyik denger lagu (ganggu aja sich. Brakk.. di lempar sepeda sama Ian). Aku bergegas keluar dan menuruni tangga hingga kulihat seseorang duduk di ruang tamu bersama papaku dengan senyum tanpa dosa. “nah itu Melody, kalian belajar di kamar melody sana” kata papa. Aku hendak menolak saat Ian memotong omonganku dengan berkata “siap om, ayo Mel”. Aku kembali menaiki tangga saat baru saja turun, Ian mengikuti langkah kakiku yang cepat, naik. Aku berhenti sejenak di depan pintu berwarna biru “ini kamarku” kataku agak malas sambil membuka pintu.
Andrean POV:
Saat ia membuka pintu kulihat nuansa kamar Melody adalah biru, mulai dari biru muda hingga gelap. Jelas beda dengan kamarku yang bernuansa biru dongker dan hitam. Kamarnya cukup luas dan terisi banyak barang. Di samping tempatku berdiri juga ada meja kecil, di atasnya ada lampu meja, jam, handphone, dan fotonya beserta keluarganya. Aku tak tahu sejak kapan Melody berdiri memandangku yang sedang melihat fotonya, tapi aku yakin apa yang ku dengar. “dia Mamaku, dia meninggal 2 thn yang lalu” katanya. Aku hanya mematung mendengarnya, lalu kembali menatapnya.
Melody mengajakku untuk segera mengerjakan tugas, mungkin aku telah membuatnya sedih. Namun segera kualihkan pembicaraan “hei, apakah ini benar-benar kamar seorang gadis. Ini kapal pecah” godaku agar ia tersenyum. Namun tak sangka malah lemparan bantal yang mendarat di kepalaku. Namun ia kembali menyuruh mengerjakan tugas, mengkin ia marah padaku. Akan ku buat ia tak punya alasan mengusirku. Kukerjakan tugasku secepat kilat dan dalam 1 jam, 4 dari 6 tugas selesai. Dan tuntu saja bagian Melodylah yang belum selesai, ia memilih olahraga renang dan pencak silat yang halamanya paling banyak. Dalam hati aku berkata “salah sendiri milih yang sulit, and ngelawan Andrean Dirgantara Putra” tepat jam 8 Melody selesai. “huff.. capeknya” keluhnya sambil menyeka keringat.
“Mel jalan-jalan yuk, bête ni” seruku kesal. “ kemana” jawabnya sambil merapikan berkas tugas kami. “kemana gitu” cetusku. “em..Ian gimana kalau nanti malem anterin aku ke planetarium? Ada yang pengen kukasih tahu”usul Melody. “ya udah boleh, ntar gue jemput jam 7 malem. Tapi sekarang kita ngapain?” kataku. “jalan-jalan ke kebun teh” serunya senang. Ia menarik tanganku menuruni tangga, ia segera meminta izin papanya lalu kembali menarikku keluar menuju sepedaku. “lho sepeda loe mana?” tanyaku heran. “sepeda gue lagi di bengkel, sekalian ya tiap pagi anter gue ke sekolah” katanya lugu seolah tak tahu  yang barusan dia katakana.
Aku mengayuh sepedaku cepat sedangkan ia berdiri sambil memegang pundakku dan menikmati hembusan angin. Aku bertanya padanya diantara hembusan angin “apa tujuan kita kemari?” tanyaku. Dengan tampang tanpa dosa ia menjawab “bersepeda”. Jawabanya membuatku sedikit kesal dan timbul rasa jail, kupercepat laju sepedaku melewati jalan menurun yang tidak rata hingga menuruni bukit. Rencanaku berhasil ia agak takut dan mencengkram pundakku keras. Namun saat aku melihat matanya yang takut keseimbanganku goyah, kami terjatuh di sungai kecil dengan aliran air yang sangat jernih, dan beberapa ikan.
Kudengar dia mengerutu pelan sementara aku tertawa keras melihatnya basah kuyup, tapi dia malah melempariku dengan lumpur di dasar sungai, dan kini ia tertawa sama kerasnya denganku tadi “sial” gumamku pelan, lalu balik melemparnya dengan lumpur. Akhirnya baju kami sangat kotor dan berhenti saling lempar. Di aliran yang masih bersih kami membersikan muka dan pakaian kami.
Melody POV:
Setelah baju kami tak terlalu kotor aku berkata “di dekat sini ada tempat dengan pemandangan menakjupkan, ikut aku ya…”. Awalnya ia terlihat berpikir tapi kemudian dia menjawab “baiklah asal kali ini kau benar” katanya. Aku hanya tersenyum lalu beranjak meninggalkan air.
Entah apa yang mendorongku namun aku merasa sangat mengenal tempat ini, kakiku terus berjala hingga terdapat semak belukar tinggi menutupi wajahku. “Ian bantu aku singkirkan semak belukar ini” kataku kemudian. Meskipun langsung melakukanya aku dapat melihat wajahnya nampak ragu, dan saat semak terakhir menhilang dari hadapanku aku benar-benar merasa aneh. Rumah pohon tua, ayunan yang kayunya telah lapuk, ring basket berkarat. Kini sungguh aku merasa pernah di sini.
Kakiku melangkah pelan menuju ke bawah rumah pohon itu lalu samar ku dengar gemericik air. “sungai dan air terjun itu!” kataku kemudian dan aku ingat semuanya. Ku tarik semak di sebelah kananku dan benar saja air terjun kecil dapat ku lihat jelas di ujung sungai. Dua ikan emasku dulu sekarang jadi sekumpulan ikan. Aku kembali dan mengajak Ian naik ke atas rumah pohon itu, sampai di atas. Meski berdebu rumah itu tak berantakan.
Normal POV:
“Melodi sebenarnya ada apa?” Tanya Ian keheranan. “maaf aku lupa bercerita, 2 thn yang lalu keluargaku mengalami kecelakaan saat akan wisata bersama. Sayangnya mamaku tiada sejak saat itu. Kejadian itu juga membuatku hilang ingatan. Karena aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi , aku menyalahkan diriku sendiri karena aku yang bersih keras ingin rekreasi. Tapi sekarang, maksudku beberapa menit yang lalu aku ingat semuanya. Aku sembuh!” jelas Melodi . “begitukah? Apa kau masih menyalahkan dirimu sendiri?” Tanya Ian. “tidak terlalu, aku ingat detail kecelakaan itu. Aku ingat aku masih melindungi mama pada detik terakhir. Aku ingat mama berkata padaku bahwa aku harus jadi apa yang ku inginkan dan membahagiakan keluargaku.” Terang Melodi.
“telpon papamu, ah tidak semua keluargamu” saran Ian. Melodi mengangguk, ia segera menelpon papanya. Tak lama ia mematikan telpon dan berkata “ayo pulang ke rumahku”
Rumah Melodi:
“kak Melodi!” teriak kedua adik kembar Melodi yang begitu senang mendengar kakaknya sembuh. “Rico, Rika kakak sangat senang. Akhirnya kakak ingat semuanya” kata Melodi penuh ceria. “papa sudah lama menanti saat ini” katanya “oh ya, Adrian makan sianglah di sini. Terima kasih ya.. kamu seperti malaikat yang sengaja dikirim untuk menolong Melodi. Kamu benar-benar keajaiban” lanjutnya. “ah tidak om.. mungkin ini hanya kebetulan” jawab Ian. Meskipun ia berkata begitu, Ian menggingat tulisan di buku Diene, mungkinkah ada hubunganya?
part  2 selesai..
kemungkinan part 3 itu ending..
jadi tunggu ya..

Senin, 12 Maret 2012

the little match seller

The Little Match Seller
by
Hans Christian Andersen
(1846)
IT was terribly cold and nearly dark on the last evening of the old year, and the snow was falling fast. In the cold and the darkness, a poor little girl, with bare head and naked feet, roamed through the streets. It is true she had on a pair of slippers when she left home, but they were not of much use. They were very large, so large, indeed, that they had belonged to her mother, and the poor little creature had lost them in running across the street to avoid two carriages that were rolling along at a terrible rate. One of the slippers she could not find, and a boy seized upon the other and ran away with it, saying that he could use it as a cradle, when he had children of his own. So the little girl went on with her little naked feet, which were quite red and blue with the cold. In an old apron she carried a number of matches, and had a bundle of them in her hands. No one had bought anything of her the whole day, nor had anyone given her even a penny. Shivering with cold and hunger, she crept along; poor little child, she looked the picture of misery. The snowflakes fell on her long, fair hair, which hung in curls on her shoulders, but she regarded them not.
Lights were shining from every window, and there was a savory smell of roast goose, for it was New-year’s eve—yes, she remembered that. In a corner, between two houses, one of which projected beyond the other, she sank down and huddled herself together. She had drawn her little feet under her, but she could not keep off the cold; and she dared not go home, for she had sold no matches, and could not take home even a penny of money. Her father would certainly beat her; besides, it was almost as cold at home as here, for they had only the roof to cover them, through which the wind howled, although the largest holes had been stopped up with straw and rags. Her little hands were almost frozen with the cold. Ah! perhaps a burning match might be some good, if she could draw it from the bundle and strike it against the wall, just to warm her fingers. She drew one out—“scratch!” how it sputtered as it burnt! It gave a warm, bright light, like a little candle, as she held her hand over it. It was really a wonderful light. It seemed to the little girl that she was sitting by a large iron stove, with polished brass feet and a brass ornament. How the fire burned! and seemed so beautifully warm that the child stretched out her feet as if to warm them, when, lo! the flame of the match went out, the stove vanished, and she had only the remains of the half-burnt match in her hand.
She rubbed another match on the wall. It burst into a flame, and where its light fell upon the wall it became as transparent as a veil, and she could see into the room. The table was covered with a snowy white table-cloth, on which stood a splendid dinner service, and a steaming roast goose, stuffed with apples and dried plums. And what was still more wonderful, the goose jumped down from the dish and waddled across the floor, with a knife and fork in its breast, to the little girl. Then the match went out, and there remained nothing but the thick, damp, cold wall before her.
She lighted another match, and then she found herself sitting under a beautiful Christmas-tree. It was larger and more beautifully decorated than the one which she had seen through the glass door at the rich merchant’s. Thousands of tapers were burning upon the green branches, and colored pictures, like those she had seen in the show-windows, looked down upon it all. The little one stretched out her hand towards them, and the match went out.
The Christmas lights rose higher and higher, till they looked to her like the stars in the sky. Then she saw a star fall, leaving behind it a bright streak of fire. “Someone is dying,” thought the little girl, for her old grandmother, the only one who had ever loved her, and who was now dead, had told her that when a star falls, a soul was going up to God.
She again rubbed a match on the wall, and the light shone round her; in the brightness stood her old grandmother, clear and shining, yet mild and loving in her appearance. “Grandmother,” cried the little one, “O take me with you; I know you will go away when the match burns out; you will vanish like the warm stove, the roast goose, and the large, glorious Christmas-tree.” And she made haste to light the whole bundle of matches, for she wished to keep her grandmother there. And the matches glowed with a light that was brighter than the noon-day, and her grandmother had never appeared so large or so beautiful. She took the little girl in her arms, and they both flew upwards in brightness and joy far above the earth, where there was neither cold nor hunger nor pain, for they were with God.
In the dawn of morning there lay the poor little one, with pale cheeks and smiling mouth, leaning against the wall; she had been frozen to death on the last evening of the year; and the New-year’s sun rose and shone upon a little corpse! The child still sat, in the stiffness of death, holding the matches in her hand, one bundle of which was burnt. “She tried to warm herself,” said some. No one imagined what beautiful things she had seen, nor into what glory she had entered with her grandmother, on New-year’s day.
The End
translate Indonesian:
                                                                  Penjual Korek Api Kecil
                                                                                  oleh
                                                                  Hans Christian Andersen
                                                                                (1846)
T sangat dingin dan hampir gelap pada malam terakhir tahun lama, dan salju jatuh cepat. Dalam dingin dan kegelapan, seorang gadis kecil yang malang, dengan kepala telanjang dan kaki telanjang, berkeliaran di jalan-jalan. Memang benar dia pada sepasang sandal ketika dia meninggalkan rumah, tetapi mereka tidak banyak berguna. Mereka sangat besar, begitu besar, memang, bahwa mereka milik ibunya, dan makhluk kecil yang malang telah kehilangan mereka dalam menjalankan seberang jalan untuk menghindari dua gerbong yang bergulir bersama pada tingkat yang mengerikan. Salah satu sandal dia tidak bisa menemukan, dan anak laki-laki ditangkap atas lainnya dan melarikan diri dengan itu, mengatakan bahwa ia bisa menggunakannya sebagai cradle, ketika ia memiliki anak sendiri. Jadi gadis kecil itu melanjutkan dengan kaki kecilnya telanjang, yang cukup merah dan biru dengan dingin. Dalam sebuah celemek lama dia membawa jumlah korek api, dan memiliki bundel dari mereka di tangannya. Tidak ada yang membeli sesuatu dari sepanjang hari itu, juga belum ada yang memberinya bahkan sepeser pun. Menggigil kedinginan dan kelaparan, dia merayap sepanjang; anak kecil yang malang, dia melihat gambar penderitaan. Kepingan salju jatuh pada panjang rambutnya, adil, yang digantung di ikal pada bahunya, tapi ia pun tidak.Lampu-lampu bersinar dari setiap jendela, dan ada bau gurih dari angsa panggang, untuk itu malam-ya New-tahun, ia ingat itu. Di pojok, di antara dua rumah, salah satunya diproyeksikan melampaui lain, ia terduduk dan meringkuk sendiri bersama-sama. Dia telah menarik kaki sedikit di bawah, tapi dia tidak bisa menjaga dari dingin, dan ia tidak berani pulang, karena ia telah menjual tidak ada korek api, dan tidak bisa dibawa pulang bahkan satu sen pun uang. Ayahnya pasti akan memukulinya, selain itu hampir sama dingin di rumah seperti di sini, karena mereka hanya punya atap untuk menutupi mereka, di mana angin melolong, meskipun lubang terbesar telah dihentikan dengan jerami dan kain. Tangan kecilnya hampir beku kedinginan. Ah! mungkin korek api pembakaran mungkin ada beberapa yang baik, jika dia bisa menarik dari bundel dan menyerang kota ini ke dinding, hanya untuk menghangatkan jari-jarinya. Dia menarik satu-"awal!" Bagaimana tergagap karena dibakar! Ini memberikan cahaya, hangat terang, seperti lilin kecil, saat ia memegang tangannya di atasnya. Ini benar-benar cahaya yang indah. Sepertinya gadis kecil bahwa dia sedang duduk kompor besi besar, dengan kaki kuningan dipoles dan hiasan kuningan. Bagaimana api terbakar! dan tampak begitu indah hangat yang anak mengulurkan kakinya seolah-olah untuk menghangatkan mereka, ketika, lo! korek api padam, kompor lenyap, dan ia hanya sisa-sisa korek api setengah terbakar di tangannya.Dia mengusap korek api lain di dinding. Ini tiba terbakar, dan di mana cahayanya jatuh pada dinding menjadi setransparan jilbab, dan ia bisa melihat ke dalam ruangan. Meja itu ditutupi dengan taplak meja-salju putih, yang berdiri layanan makan malam yang indah, dan angsa panggang dikukus, diisi dengan apel dan plum kering. Dan apa masih lebih indah, angsa melompat turun dari piring dan tertatih-tatih di lantai, dengan pisau dan garpu di payudara, untuk gadis kecil itu. Kemudian korek api keluar, dan masih ada tidak lain, tebal basah, dinding dingin di depannya.Dia menyalakan korek api lain, dan kemudian ia mendapati dirinya duduk di bawah pohon Natal yang indah. Itu lebih besar dan lebih indah dari yang dihiasi yang ia telah melihat melalui pintu kaca di pedagang kaya. Ribuan kemiringan terbakar pada cabang hijau, dan gambar berwarna, seperti yang dia lihat di acara-jendela, dipandang rendah semuanya. Si kecil mengulurkan tangannya ke arah mereka, dan korek apikeluar.Lampu-lampu Natal naik lebih tinggi dan lebih tinggi, sampai mereka tampak bagaikan bintang-bintang di langit. Kemudian ia melihat bintang jatuh, meninggalkan itu beruntun terang api. "Seseorang sedang sekarat," pikir si gadis kecil, untuk nenek tua nya, satu-satunya yang pernah mencintainya, dan yang sekarang mati, bercerita bahwa ketika jatuh bintang, jiwa akan sampai kepada Allah.Dia kembali mengusap pertandingan di dinding, dan cahaya bersinar meliputi dirinya, dalam kecerahan berdiri nenek tuanya, jelas dan bersinar, namun ringan dan penuh kasih dalam penampilannya. "Nenek," seru si kecil, "Wahai membawa saya bersama Anda, saya tahu Anda akan hilang ketika pertandingan membakar, Anda akan lenyap seperti kompor yang hangat, angsa panggang, dan, besar mulia Natal-pohon." Dan dia bergegas menyalakan bundel seluruh pertandingan, karena ia ingin menjaga neneknya di sana. Dan pertandingan bersinar dengan cahaya yang lebih terang dari siang hari-dan neneknya tidak pernah muncul begitu besar atau begitu indah. Dia mengambil gadis kecil dalam pelukannya, dan mereka berdua terbang ke atas dalam kecerahan dan sukacita jauh di atas bumi, di mana ada tidak dingin atau lapar atau sakit, karena mereka dengan Allah.Pada fajar pagi ada meletakkan si kecil miskin, dengan pipi pucat dan mulut tersenyum, bersandar ke dinding, dia telah mati beku pada malam terakhir tahun ini, dan matahari Baru-tahun bangkit dan bersinar atas sedikit mayat! Anak itu masih duduk, dalam kekakuan kematian, memegang pertandingan di tangan, satu bundel yang dibakar. "Dia mencoba untuk menghangatkan dirinya sendiri," kata beberapa. Tidak ada yang membayangkan apa yang indah hal yang dilihatnya, atau menjadi apa kemuliaan ia masuk dengan neneknya, pada tahun baru.                                                                                Tamat

Jumat, 17 Februari 2012

With You Always

With You Always 3
Alvin serasa meledak ia tidak menyangka kini tidak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk mengambil hati Luna. Alvin masuk ke kelasnya dengan amarah yang cukup tinggi, tak lama kemudian Luna dan Rendi masuk dengan muka berseri dan tawa bahagia. Saat itu juga Alvin merasakan kepalanya sakit, sangat sakit. Ia berteriak keras, lalu terdengar suara memanggil namanya, suara terakhir yang ia dengar sebelum ia pingsan.
Alvin POV
Aku mendengar suara burung cukup keras, kubuka mataku perlahan dan aku melihat pemandangan yang tidak asing. “rumah sakit berlian, ruang VIP no.03” gumamnya pelan, ia melihat jam di sebelahnya “sial.. sudah jam empat, dokter pasti melarangku pulang malam ini” gumamnya lagi. Pandanganya beralih ke arah sofa, adiknya fayrica sedang tidur berpangku pada mamanya. Lalu ia mendengar lagi burung-burung kecil berkicau di jendela. Sejenak ia tersenyum lalu mengigat masa lalunya. Tak lama kemudian ayahnya masuk membawa makanan, adik dan mamanya terbangun. “ lho Alvin sudah siuman?” kata mamanya menyadari keberadaanya. Sebelun Alvin menjawab adiknya Fayrica berlari dan langsung memeluknya. “kakak…… fayrica kangen…” katanya manja. “ iya, kakak juga” jawabnya sambil mengacak-acak rambut adiknya. Lalu ia melihat mamanya dan berkata “ aku bangun jam 4 tadi, boleh aku pulang malam ini? Tanyanya. Mamanya hanya menghela napas dan berkata “ mama rasa kamu sudah tahu jawabannya. Bila kau tidak menginginkan hal ini berhentilah memikirkan gadis itu!” katanya. “ ma jangan salahkan Alvin, dia tahu yang terbaik, dia sudah besar” bela ayahnya. “tapi ini akibatnya, Alvin lah yang harus menderita” jawab mama Alvin marah. “Aku yakin Alvin sudah tahu resikonya” belanya lagi Alvin hanya terdiam, tak lama, mamanyapun terdiam, mereka tahu Alvin benci perdebatan .
Alvin memecah keheningan dengan berkata “aku ingin mencari udara segar sendirian”. Ia berjalan dengan mata sayu, adiknya Fayrica tersenyum manis. Saat dia diluar dilihatnya wajah yang taka sing, seorang gadis yang dilihatnya sejak pertama ia dirawat disini. Di mata Alvin gadis itu tak pernah berubah, gadis pucat yang selalu tersenyum manis, namun pikirannya tentang gadis itu hilang saat dia memanggil namanya “kau Alvin kan..?” sapanya. “iya, darimana kau tahu? Siapa kau?” jawab Alvin. “aku mendengarnya dari para suster cerewet itu, aku Tasya, salam kenal” kata tasya sambil berjabat tangan dengan Alvin. Alvin tersenyum lalu berkata “kau mau jalan-jalan? Aku bosan di sini” katanya. “boleh, ayo ke balkon. Akan ku tunjukkan sisi indah R.S. Berlian” jawabnya bersemangat.
Di lorong yang mereka lewati Tasya sering kali menyapa orang-orang di sana, Alvin sempat berpikir Tasya pemilik RS ini, tapi ia menangkis pikirannya itu karena mana mungkin pemilik RS memakai baju pasien?. Alvin merasa aneh, ia bertannya “hei, aku yakin aku melihatmu sejak pertama kali aku dirawat di sini, 5 thn lalu. Apa panyakitmu?” tanyanya datar. “akan kuceritakan di balkon nanti, karena ceritanya panjang” jawabnya tetep dengan senyum khasnya.
“Sudah sampai, ini balkonnya indah bukan?”katanya tak lama kemudian. Alvin tak sanggup berkata apa-apa ia terdiam takjup, tak lama kemudian ia berkata “Luar Biasa..”. “gunung yang indah, sungai dan taman, pohon besar dengan burung yang lucu. Ini pemandangan asli RS ini” katanya ceria, namun berkaca-kaca.
“kau sakit apa?” tanyaku serius, “em.. aku sakit loukimia stadium 4, perawatan intensif di sini hamper 6 th, sampai aku mendapat donor sum-sum tulang belakang yang sesuai aku akan terus tergantung dengan obat-obatan” jawabnya dan lagi-lagi dengan senyuman. “oh.. begitu, hampir sama denganku. Aku punya kangker otak hampir 2th ini” kataku. “benarkah..? lalu kenapa rambutmu tidak gundul?” Tanya Tasya dengan nada mengejek.” Enak saja, karna keinginan sehatku yang tinggi & rutin minum banyak obat sekaligus, jadi tidak pengaruh”. Mereka terus ngobrol, bercanda, dan saling ejek bersama hingga sunset yang indah menyapa mereka. Tak lama kemudian Alvin menyadari sudah waktunya kembali sebelum nanti keluarganya mengomel lagi. “Tasya, aku harus kembali. Bye” katanya sambil berlari kecil meniruni tangga.
Sampai memasuki ruanganya wajah mereka benar-benar kawatir. “maafkan aku” kataku memelas menuju tempat tidur. “dari manasaja?” sahut ibunya. “main dengan teman baruku Tasya” jawabku seraya tidur. Mereka lalu hanya diam membiarkanku tidur.
Esok harinya:
Di sekolah
“Surat dari rumah sakit menyatakan Alvin sakit dan absen hari ini” kata bu Indriana. “maaf bu saya sekretaris kelas, boleh saya tahu penyakit Alvin agar dapat menukisnya di buku absen?” kata Lia.” Kali ini kamu tulis saja sakit ya” kata bu Indriana. Lia agak bingung denga jawaban bu Iriana, namun tetap mengangguk sopan. “dia punya riwayat penyakit?” Tanya Rendi tiba-tiba pada Luna. “aku tidak tahu, kurasa tidak” katanya.
Di Rumah Sakit
Pagi ini Alvin bangun dengan semangat dan senyuman. Alvin merasa senang dengan keadaan di rumah sakit ini mulai kemarin. Ia berpamitan pada mamanya untuk membeli makan, dan tentu untuk menemui Tasya. Ia sengaja membeli 2 mangkuk bubur ayam dan air mineral. Saat ia menuju ruangan Tasya ia melihat Tasya duduk melamun di bangku kecil, Alvin menghampirinya. “hoyy… ngelamun aja nich aku bawain makan” sapanya.
“eh iya Vin, ga perlu ngagetin ngapa?” jawabnya. “iya dech sorry. Udah cepet ni makan!” kata Alvin lagi sembari menyerahkan semangkuk bubur pada Tasya. Sambil makan Alvin bertanya “lho mama & papamu mana?”. “ya mereka kerja lha” jawabnya cepat. “cewek kok galak” sindir Alvin padanya. Tasya tak merespon dan hanya melanjutkan makan, sementara Alvin terkekeh.
Setelah makan Alvin pamit karna waktunya periksa rutin. Sesampainya di kamar ia menggerutu “huff… sendirian lagi, semua sibuk sendiri” lalu membaringkan tubuhnya di kasur. Tak lama kemudian pintu diketuk oleh seorang suster pemeriksanya. Sambil di periksa ia hanya melamun memikirkan betapa tegarnya Tasya, hingga tak terasa pemeriksaan terasa begitu cepat. Saat ia sadar dari lamunannya suster itu sudah keluar.
Skip pagi harinya
Seperti kemarin Alvin hendak menemui Tasya, apalagi hari ini Alvin sangat kesal karena seharian kemarin ia sendirian. Saat tiba di depan pintu kamar Tasya raut muka Alvin berubah menjadi khawatir. Seorang suster menghadangnya dan berkata “maaf, Tasya harus dirawat ketat oleh dokter”. Alvin kembali ke kamarnya dengan perasaan galau, ia hanya mondar mandir tanpa memakan makanan yang tadi dibelinya, entah kenapa perasaannya sangat buruk.
Sore pukul 15.00
Alvin berteriak dari tidurnya dengan keringat dingin membasahi wajahnya. Ia mencoba vokus pada hal yang terjadi, lalu bergumam “mimpi buruk”. Namun saat mengingat mimpi itu ia panic “siapa.. siapa gadis itu? Kenapa ia berterima kasih padaku? Dan kenapa aku melarangnya pergi?” tiba- tiba pintunya diketuk cepat oleh seseorang “Alvin… Alvin…”. “ada apa tante?” jawabku sambil membuka pintu. “nak Tasya nak, kamu harus temui dia” kata ibu Tasya sambil menangis. Seolah tahu apa yang terjadi aku berlari ke kamar Tasya meninggalkan ibunya.
Aku membuka pintu kamar itu, ku lihat ayah Tasya juga menagis, kuhampiri tasya dan ku genggam tangannya. “Alvin tasya kritis nak” kata ibu Tasya. “Tasya.. Tasya bangun Sya ! kamu gak boleh ninggalin aku Sya!” teriak Alvin. Sesaat ku lihat matanya terbuka walau sedikit. Alvin berkata lagi “Sya kamu gak boleh pergi!! Inget janji kamu !” “v..vin” sela Tasya “ma..ma..ka…s..iii...h m..maa..u b..ber..r..te…ma..n.. d..en…gan…ku” katanya
“m..ma…ma, pa…pa Ta…sy..a ss..a…ya..n..g k..kal…li..an” katanya lagi “iya Sya kami juga sayang padamu” jawab ibunya sementara papanya tak sanggup berkata apa-apa. Alvin terus berkata padanya “Sya dengerin aku, kamu harus semangat kamu pasti bisa bertahan! Percayalah Sya!!” tasya hanya tersenyum lalu matanya perlahan tertutup, terdengar bunyi dari alat disebelahnya. Kedua orang tua Tasya menagis semakin histeris. Alvin begitu tak percaya dengan apa yang dilihatnya “Sya..Tasya bangun Syaaa…!!!”
Alvin terbangun di kamarnya , kepalanya terasa berat. Selembar kertas putih berada digenggamanya.
Alvin maaf kami pergi tanpa pamit, kami memakamkan Tasya di TPU sekar putih, kalau kamu ingin kamu bisa pergi kesana. Vin sekedar agar kamu kamu adalah satu-satunya bagi Tasya. Di akhir hidupnya Tasya begitu bahagia. Tasya tak pernah lebih bahagia dibanding saat kamu datang sebagai temannya. Tante Fitri dan Om Dika sangat berterima kasih dan meminta maaf. Kami pamit nak..
Alvin terus menggigat disaat kebersamaannya dengan Tasya, sambil menagis ia terus menyebut nama Tasya. Semalam Alvin menanggis. Esok paginya Fayrica datang dia meminta maaf karena tak datang 2 hari. Alvin menyuruh Fay berjanji agar tak bilang tenteng penampilannya sekarang pada kedua orang tuanya. Rambutnya yang acak-acakan & matanya yang hitam karena menanggis. Tak lama kemudian Fayrica pulang, Alvinpun segera membenahi penampilannya sebelum suster datang. Seusai pemeriksaan ia berniat pergi ke makam Tasya yang dekat dengan rumah sakit.
Ia membawa sebuah keranjang bunga mawar merah dan merah mudah. Ia mencurahkan semua isi hatinya dan berdoa untuk Tasya. 2 jam tak terasa ia berada di sana. Ia memutuskan segera pulang sebelum pemeriksaan siang, Alvin tak ingn para dokter ngomel-ngomel padanya. Sesampainya di rumah sakit ia menyempatkan diri ke tempat dimana ia bertemu pertama kali dengan Tasya, ruang tunggu itu tak pernah berubah, tetap tenang seperti biasa, kecuali pengelihatannya tak salah.
Perlahan Alvin mengamati lelaki di ujung bangku, topi abu-abu menutupi rambut hitamnya “apa yang dia lakukan disini” gumamnya kesal. Lalu terdengar namanya di panggil “Rendi Agatha Putra”. Rendi berjalan pelan ke sumber suara, dan Alvin mendengarkan percakapanya dengan suster itu.
“maaf Rendi, sejauh ini kami terus mencari donor sum-sum buatmu. Memang ada, tapi itu tidak cocok. Sekali lagi kami minta maaf”
“em.. aku sakit loukimia stadium 4, perawatan intensif di sini hamper 6 th, sampai aku mendapat donor sum-sum tulang belakang yang sesuai aku akan terus tergantung dengan obat-obatan” kata-kata Tasya itu teringgat kembali, Alvin membelalakkan matanya tak percaya. Tak lama Rendi berjalan pulang. Alvin mengejarnya sambil berteriak “Rendi tunggu..!” Rendi menoleh, ia tak yakin dengan apa yang dilihatnya, “apa bener yang gue denger tadi, loe sakit Leokimia??” kata Alvin to the point. Rendi terlihat terkejut namun cepat berdalih “loe salah denger kali” katanya sambil tersenyum palsu. “loe gak perlu bo`ong, loe tahu kenapa gue di sini? Gue kena kangker Ren! Kangker!” kata Alvin tak sabar.
Pandangan Rendi kini tanpa ekspresi, perlahan ia menunduk dan berkata “ok gue jujur sama loe, tapi please rahasiain ini sama temen2, gue bakal lakuin hal yang sama buat loe..”
“terus Luna gimana?? Loe belum bilang ke dia, dia nungguin loe udah lama banget” kata Alvin separuh menyindir. “belum, Vin gue tahu loe suka sama Luna dari cara Loe liat gue waktu itu. Gue ga tahu sampai kapan gue bisa bertahan & ngerahasiain ini sama Luna. Satu yang gue tahu gue sayang banget sama dia!! gue pengen selalu sama dia, pengen banget!” katanya pasrah. “tenang aja sob gue percaya loe bakal selalu sama dia meski di hatinya, seperti orang yang baru aja gue kenal, bukan loe!” kata Alvin sambil tersenyum.
“gue ga nyangka dunia ini sempit, gue udah kenal banyak orang dengan penyakit kaya kita gini” kata Alvin sambil menggingat Tasya. “loe kelihatan terbiasa?” heran Rendi. “baru 3 hari gue kenal cewek dengan penyakit kaya loe yang meninggal kemaren dengan senyum bahagia, sejak itu gue udah ga pernah peduli sama yang namanya penyakit, gue ga takut mati” katanya puas. “loe sayang kan sama keluarga & temen loe?”Tanya Rendi, namun Alvin tak menjawab , hanya setetes air mata jatuh ke pipinya lalu dengan tersenyum ia mengangguk. “gue pengen sehat, banyak banget yang belum gue lakuin, terutama bahagiain Luna and kak Imel, gue ga pengen ninggalin kak Imel sendirian, dan gue terlalu sayang sama Luna, gue ga rela kalau harus pergi sekarang”lanjut Rendi.
Raut muka Alvin terlihat berpikir, lalu Rendi berpamitan pulang. Setelah Rendi melewati pintu keluar, Alvin pergi ke meja resepsionis dan kembali ke kamarnya dengan membawa beberapa lembar kertas.
Part 3 end
See you next time with WYA part 4