Minggu, 29 Juli 2012
buat yang suka accesoris bisa beli disini.
murah kok per huruf cuma Rp.1000, bebas pilih
-gantungan ponsel
-gantungan kunci
- buat tempelan tanpa gantungan
bebas pilih warna
-warna huruf
-warna dasaran huruf
-warna dasar
Terus kalau pengen tambahan tinggal ngomong aja,
pengen beli? gampang tinggal coment aja nanti kukasih rekeningnya..
Jumat, 27 Juli 2012
puisi
Bunga Sakura
Karya : Reza D. Fajar
Semua orang kan bahagia
Saat April telah tiba
Menikmati hari di luar rumah
Berjalan di bawah pohon sakura
Satu demi satu kelopak berguguran
Menjadi momen tak terlupakan
Senda gurau, canda dan tawa
Berlari, menari , bermain bersama
Tapi apa yang terjadi…
Setelah kelopak tlah di atas tanah
Adakah yang akan mengambilnya?
Sayangnya tidak , semua dilupakan
Kelopak itu ditinggalkan selamanya
Itulah kerasnya kehidupan ini
Semangatlah yang dapat merubah
Karena saat di atas bagai raja
Namun di bawah bagai pengemis
Pesan: hidup tak selamanya indah. Bagaikan roda kadang diatas
kadang di bawah.
Rabu, 27 Juni 2012
lirik faforit
Marry You
by: Bruno Mars
it's a beautiful night,
we're looking for something dumb to do.
hey baby,
i think i wanna marry you.
is it the look in your eyes,
or is it this dancing juice?
who cares baby,
i think i wanna marry you.
well i know this little chapel on the boulevard we can go,
no one will know,
come on girl.
who cares if we're trashed got a pocket full of cash we can blow,
shots of patron,
and it's on girl.
don't say no, no, no, no-no;
just say yeah, yeah, yeah, yeah-yeah;
and we'll go, go, go, go-go.
if you're ready, like i'm ready.
cause it's a beautiful night,
we're looking for something dumb to do.
hey baby,
i think i wanna marry you.
is it the look in your eyes,
or is it this dancing juice?
who cares baby,
i think i wanna marry you.
i'll go get a ring let the choir bells sing like oooh,
so whatcha wanna do?
let's just run girl.
if we wake up and you wanna break up that's cool.
no, i won't blame you;
it was fun girl.
don't say no, no, no, no-no;
just say yeah, yeah, yeah, yeah-yeah;
and we'll go, go, go, go-go.
if you're ready, like i'm ready.
cause it's a beautiful night,
we're looking for something dumb to do.
hey baby,
i think i wanna marry you.
is it the look in your eyes,
or is it this dancing juice?
who cares baby,
i think i wanna marry you.
just say i do,
tell me right now baby,
tell me right now baby, baby. [x2]
cause it's a beautiful night,
we're looking for something dumb to do.
hey baby,
i think i wanna marry you.
is it the look in your eyes,
or is it this dancing juice?
who cares baby,
i think i wanna marry you.
we're looking for something dumb to do.
hey baby,
i think i wanna marry you.
is it the look in your eyes,
or is it this dancing juice?
who cares baby,
i think i wanna marry you.
well i know this little chapel on the boulevard we can go,
no one will know,
come on girl.
who cares if we're trashed got a pocket full of cash we can blow,
shots of patron,
and it's on girl.
don't say no, no, no, no-no;
just say yeah, yeah, yeah, yeah-yeah;
and we'll go, go, go, go-go.
if you're ready, like i'm ready.
cause it's a beautiful night,
we're looking for something dumb to do.
hey baby,
i think i wanna marry you.
is it the look in your eyes,
or is it this dancing juice?
who cares baby,
i think i wanna marry you.
i'll go get a ring let the choir bells sing like oooh,
so whatcha wanna do?
let's just run girl.
if we wake up and you wanna break up that's cool.
no, i won't blame you;
it was fun girl.
don't say no, no, no, no-no;
just say yeah, yeah, yeah, yeah-yeah;
and we'll go, go, go, go-go.
if you're ready, like i'm ready.
cause it's a beautiful night,
we're looking for something dumb to do.
hey baby,
i think i wanna marry you.
is it the look in your eyes,
or is it this dancing juice?
who cares baby,
i think i wanna marry you.
just say i do,
tell me right now baby,
tell me right now baby, baby. [x2]
cause it's a beautiful night,
we're looking for something dumb to do.
hey baby,
i think i wanna marry you.
is it the look in your eyes,
or is it this dancing juice?
who cares baby,
i think i wanna marry you.
info
alhamdulillah naik kelas dua Smp dapat peringkat 2 terima kasih do`a dari teman-teman semua.
buat story aku bakal cepet update selama 2 bulan ini karena jadwal ga full.
tolong masukan ya buat kedepannya..
aku tambah animasi shugo chara, pengenya sich Miki tapi ga da kalau punya tolong kasih tahu ya..
yang mau request story juga boleh yang jelah saya minta partisipasinya..
buat story aku bakal cepet update selama 2 bulan ini karena jadwal ga full.
tolong masukan ya buat kedepannya..
aku tambah animasi shugo chara, pengenya sich Miki tapi ga da kalau punya tolong kasih tahu ya..
yang mau request story juga boleh yang jelah saya minta partisipasinya..
terima kasih, Reza Fajar
Jumat, 08 Juni 2012
Info
huft...
harus absen buat update story nich..
UKK..UKK bentar lagi kelas 2 SMP..
semua minta do`a ya, biar naik kelas dengan nilai yang baik..
buat yang ngasih do`a, aku do`a in juga biar semua mimpinya terwujud..
in the road to reach my goal of life..
Thank You All..
harus absen buat update story nich..
UKK..UKK bentar lagi kelas 2 SMP..
semua minta do`a ya, biar naik kelas dengan nilai yang baik..
buat yang ngasih do`a, aku do`a in juga biar semua mimpinya terwujud..
in the road to reach my goal of life..
Thank You All..
Rabu, 23 Mei 2012
Secret Hunter
Secret Hunter
Angin berhembus kencang, saat ini aku sedang berdo`a di
makam orang tuaku dengan Jae Joong kakakku. “ JJ, aku selesai, ayo kembali”
ajakku. “kalau mau masih ada waktu 1 menit untuk berlama-lama di sini” katanya.
Aku hanya berjalan ke mobil sebagai jawaban “tak lucu”. Mobil biru tua kakakku
melesat melewati jalan sepi dan menerbangkan daun-daun kering di musim gugur
ini. Sekejap kami telah sampai, di tempat yang jadi rumah ke duaku ini.
Disinilah aku home schooling, teman-temanku adalah agen rahasia, beberapa FBI,
paspampres, professor, shooting, dan banyak lagi. “hey, Jae Shik lihat game
buatanku ini” kata orang ke-2 termuda di sini setelah aku, ahli computer Jang
Hae Min. “kelihatanya bagus, bagaimana cara mainnya?” tanyaku antusias. Dan inilah
kehidupanku sebagai SECRET HUNTER.
“kalian jangan main
terus, ayo latian menembak lagi” ajak lady meirrin. “aku sedang bertugas lady”
jawab Hae Min, “dan ini bukan jadwal latihanku” tambahku. Lady meirrin tak
menjawab dan pergi ke tempat lat.tembak. “kalian mau jus” kata kak Shin Jung.
“tentu” jawabku. “Jae Shik, kakakmu mana?” tanyanya. “kakak sedang latihan
Tembak” jawabku. “baiklah kalau begitu, sampai jumpa” kata kak Shin Jung. Aku
hanya melambaikan tangan.
“perhatian, tim Rose
akan segera sampai” suara kapten Jang mendenggung di semua ruang, kami segera
menempati posisi. Kali ini tugasku hanya memastikan keamanan, komandan memang sering
melarangku diberi tugas lapangan, dia selalu bilang “kau masih kecil”. Akupun
mulai bekerja, “lotus pada rose, lotus pada rose kirimkan signal kalian”.
“baik” jawab mereka, tak lama signal mereka sampai di komputerku. “masih ada 3
orang penyusup” kataku pada tim rose dan ke dua kaptenku. “kami kekurangan
senjata” kata salah seorang tim rose.
“Jae Joong, Shin Jung
bantu mereka” kata kapten Han pada kami. Tepat 15 menit bantuan pergi, radarku
tak melihat penyusup lagi. “okey, kapten kita berhasil!!” kataku keras. 10
menit berikutnya mereka sampai di markas. Kami melanjutkan aktivitas hingga
waktunya pulang. Sekarang jam Sembilan malam. Mobil kakakku melesat kencang ke
rumah yang sepi dan gelap, tentu saja lampunya belum dinyalakan.
“hey jangan sentuh
aku!!” teriak seseorang. “kau saja” kata kakakku lembut, aku mengerti
maksudnya. Aku segera turun dari mobil dan berlari ke balkon. Benar saja 3
orang preman berbadan besar sedang mengikat nona muda, dan 2 yang lain sedang
menggoda nona itu. “seenaknya saja kalian masuk ke rumah orang dan berbuat
kotor” kataku sambil berjalan mendekat. “hey gadis kecil, kalau kau mau, tunggu
sampai kami selesai dengan nona ini atau sekarang juga boleh” kata salah satu
dari mereka. “hmm… kita dapat 2 hari ini” kata seorang lagi. “2 tinju,2
tendang. Akan kupastikan” kataku. “gadis kecil pergilah, selamatkan dirimu”
kata nona muda itu. Lalu terdenganr “huaa.. daak.. prangg.. teng.. dess..
prakk.. aww..” dan terakhir “meaww..”. “kucing liar” kataku.
Aku melepaskan nona itu,
lalu memberinya makan dan ia mulai bercerita. “namaku Park Na Ree, aku baru
sampai dari New York saat mereka menangkapku di pintu bandara, lalu mereka
membawaku ke sini sampai kau datang. Siapa namamu? Dan siapa pria yang masuk
tadi?” katanya. “aku Kim Jae Shik, tadi kakakku Kim Jae Joong. Dia pasti sedang
mandi” jawabku.
Dia bercerita hingga
larut malam tentang perusahaan ayahnya Park Kang Min, dan dia yang akan menjadi
pewaris perusahaan. Jam sepuluh lebih tiga puluh menit, dia baru berpamitan
pulang. Kakakku menyuruhku segera tidur karena besok tak libur. “sial. Aku
lelah meladeni nona itu” keluhku. “kakak!!! Gunakan lampu otomatis pada rumah
kita!!” teriakku pada kakak. “nanti saja, kalau kakak ingat” jawab kakakku
seadanya.
Jum`at, pukul 5.00
“hei cepat sedikit
makanya, komandan pasti melarangmu tugas lapangan lagi” perintah kakakku.
“memangnya kapan komandan menyuruhku tugas lapangan, yang kuingat cuma
menangkap perampok. Aku selesai, ayo berangkat” jawabku.
“5.20 kita tidak
terlambat” kataku antusias. “Jae Joong, Jae Shik ayo cepat masuk, tugas dini
hari” sapa kak Shin Jung sambil menarikku. “ada apa kak” tanyaku. “demo besar
akan terjadi di kantor presiden, meskipun presiden tidak di tempat tapi mereka
akan menyerang wapres. Komandan bilang akan ada rencana peledakan gedung. Kita
akan menyamar.” Jelas kak Shin Jung. “tunggu dulu, kita?? Aku tugas lapangan”
tanyaku tak percaya. “tentu saja, ayo lekas kemasi alat-alat dan berangkat”
katanya semangat.
“okey, tim rose, JJ.
Kalian siap” kata kapten Han Jung In pada kami. “siap” jawabku mewakili. “okey
kalian bawa 2 mobil, Shin Jung, Jae Shik bawa mobil S2AD. Kalian sebagai pendemo,
Jae Joong kau jadi paspampres” kata kapten Jang tegas. “mengerti!!” dan kamipun
segera berangkat.
Sesampainya di sana para
pendemo telah berkumpul, aku dan SJ pun mulai bergaul dengan mereka, sayangnya
kami tak menemukan rencana rahasia, kebanyakan hanya ingin hak mereka dipenuhi
tanpa perlu melukai siapapun. Tak lama kemudian seorang pendemo mulai
berteriak. Dengan cekatan kami mengawasi gerak-gerik para pendemo. Tak ada yang
mencurigakan hingga 1 jam ini, hingga seorang pendemo terlihat mengendap-endap
pergi. Aku menggikutinya dengan hati-hati, pria itu memasuki mobil dan
mengambil kardus dari sana. “JS pada lotus, coba lihat kandungan benda-benda di
sekitarku” laporku pada Hae Min. “arah jam 3, kandungan pembuat bom. Atasi dia!”
jawabnya.
Mendengar itu aku segera
menyergapnya, bukanya melawan dia tersenyum padaku. Namun akhirnya dia melawan,
kami bertarung cukup lama. Ku akui dia karatendo yang hebat. Aku sempat meresa
aneh karena ia sama sekali tak bicara. Mataku jeli melihat topi hitamnya yang bertulis
“paspampres”, dalam hati aku bertanya apa dia benci paspampres. Namun
tiba-tiba ia berlari, “hey.. berhenti kau teroris” teriakku. Ternyata di balik
tembok agen SJ telah menunggu. Pria itu tetap tenang dan tanpa ekspresi
menggeluarkan tombol kecil, dan dia melemparnya ke tanah “diarrrr….”ledakanya
tak besar namun asapnya pekat. Sadarlah aku telah terjebak. Aku menariknya yang
berlari dari balik pohon menuju mobil, namun yang kudapat hanya sapu tangan
hitam.
Aku dan SJ kembali ke
markas, sedangkan JJ tetap berjaga di lokasi. Aku begitu terkejut melihat
komandan di depan komputerku, komandan sangat jarang berada di markas. “agen JS
dan SJ kalian berhasil mengamankan gedung presiden, apa ada lagi yang kalian
temukan?” katanya. “komandan, aku gagal menangkapnya, tapi aku menemukan ini” kataku
sambil menyerahkan sapu tangan itu, ada lambang “G” di pojoknya. “huh… sudah 10
tahun ya.. sudah dimulai” kata beliau sambil menghela nafas. “apa yang dimulai”
Tanya kak Shin Jung. “akan kuberi tahu bila saatnya tiba. Sekarang tarik JJ ke
markas, aku yakin tak ada yang akan terjadi” jawabnya pasti.
Orang sebaik komandan
yang merawatku sejak orang tuaku tiada 10 tahun yang lalu, apa yang ia fikirkan hingga menghela
nafas seperti itu? Tanyaku dalam hati, namun mengenang 10 tahun yang lalu membuatku
ingat ia sempat membahasnya membuatku agak takut mencarinya, ku pikir apa yang
ditutupi komandan pasti memang tak seharusnya ku cari tahu.
Normal POV:
“perhatian semuanya,
hari ini hari istimewa, komandan berbaik hati mentraktir kita semua!!” ucap
kapten Han pada mic. Suara sorak senang terdengar ramai, mobil- mobil kami satu
persatu meninggalkan markas.
Setelah sampai meja di
penuhi oleh makanan dan minuman. Jae Shik memilih mengambil sekaleng soft drink
dan pergi mencari udara segar di balkon lantai 2. “bintang malam ini banyak
sekali. Ah itu rasi bintang Leo, indahnya” gumam Jae Shik. Tak terasa 2 jam
lebih Jae Shik memandang bintang. (sebenarnya kebiasaan memandang bintang dan
langit berjam-jam itu kebiasaan penulis hehe:D) ponsel Jae Shik berbunyi. Pesan
singkat berisi “ku tunggu di mobil” membuatnya bergegas.
Di rumah:
“kakak kita dapat
hadiah!” Kata Jae Shik sambil mengangkat kotak di depan pintu. “ada suratnya.
Biar aku baca. Untuk Jae Shik dan kakaknya Jae Joong, aku member kalian sedikit
hadiah sebagai tanda terimah kasih. Sebenarnya aku ingin memberinya secara
langsung melalui surat seperti ini tidak sopan buatku, tapi aku sudah menunggu
selama 2jam dan kalian belum pulang. Oh ya besok tolong telpon aku di nomer ini
08**********. Park Na Ree” bacanya.
“kak aku akan pergi ke
kamar untuk membuka hadiahku” ucap Jae Shik. “Jae Shik, ku rasa kau salah
mengartikan hadiah itu. Na Ree berbeda dengan Shin Jung, aku yakin kau takkan
suka hadiah itu” kata Jae Joong mengingatkan. Namun Jae shik malah memasang
muka sebal, ia berlari ke kamarnya. Satu menit kemudian. “iii waww, apa`an
nich?” kata jae Shik keluar kamar sambil membawa bando pink berbagai model.
“hwahahaha…” tawa Jae Joong meledak. “percayalah pada kakak, kakak yakin dalam
kado kakak isinya dasi. Karna penasaran Jae Shik membuka kado kakaknya, dan
ternyata benar beberapa dasi bermotis lucu ada di dalamnya.
Esok paginya
“Jae Shik, apa yang kau
lakukan?” Tanya Jae Joong dari dapur. “sedang menelpon kak Na Ree, meski aku
takkan menggunakan hadiahnya, tapi aku harus berterima kasih” ucapnya.
“halo, kak Na Ree?”
katanya mulai bicara. “iya, apa ini Jae Shik?” jawabnya. “iya kak, emm… kak aku
mau berterima kasih untuk hadiahnya, maaf harus lewat telpon” kata Jae Shik.
“Jae Shik, kau dan kakakmu datanglah untuk makan siang di rumahku hari ini!
Alamatnya akan ku kirim lewat SMS” pintanya. “baiklah kak sampai jumpa”
jawabnya.
~~END~~
Bagaimana kesan Jae bersaudara dengan rumah Park Na
Ree dan semua hal di dalamnya, bakal lanjut.
Kamis, 17 Mei 2012
With You Always part 4
With You Always 4
Alvin tersenyum puas dalam
kamarnya. Berkali-kali ia menghela nafas sambil menghadap laptopnya, ratusan
kata telah di ketiknya, sebagai anak yang menggemari teknologi Alvin bahkan
memiliki softwhere buatannya sendiri, dan kini ia sedang menggunakannya. Meski
Tasya tlah tiada, tapi bahkan ia lebih memilih Tasya di banding Luna, pujaan
hatinya sendiri. Satu kata yang terucap darinya hanya “Rendi, lihat saja apa
yang akan terjadi! Kau akan terkejut”
Pada malam harinya terdengar
adu pendapat dari kamar Alvin, baik Alvin, papa, mama bahkan adiknya saling
berpendapat. Alvin selalu sibuk memperlihatkan apa yang ada dalam laptopnya,
suaranya parau, terlihat memaksakan diri namun tetap focus. Bahkan kedua orang
tua Alvin binggung harus berkata apa setiap Alvin bicara.
Jum’at, 15.00
Rendi POV
“suster, benarkah ada pendonor
yang cocok untukku” Tanya Rendi was-was. “Rendi ya? Sudah ada pendonor minta besok
segera oprasi, tapi harus ada keluarga, pendamping juga boleh untuk mengisi
formulir ini” jawabnya ramah. “siapa sus yang sebaik itu mau menolongku”
tanyaku. “dia minta namanya dirahasiakan, dia juga tak mau wajahnya dilihat
siapapun. “jadi dia masih hidup? Apa dia tak meminta imbalan? Atau apakah dia
menggenalku” tanyaku lagi. “dia akan jelaskan semuanya setelah kau sadar usai
oprasi dengan surat. Dia sedang kritis sekarang. Dan dia iklas tanpa dibayar”.
Aku hanya diam, dalam hatiku senang namun binggung. Terkadang seperti kulihat
sepasang mata mengawasiku. Segeralah aku pulang.
Sore ini jam 7 malam aku telah
menceritakan semuanya pada Luna, perasaannya begitu campur aduk, namun akhirnya
dia memaafkanku setelah 4 jam. Kini aku sedang bertelepon dengannya, sedangkan
kakakku pergi untuk administrasi dll. Meskipun begitu aku masih bertanya-tanya
“siapa orang sebaik itu” yang rela berkorban demi aku. Namun hingga kini aku
mencoba memikirkan semua hal yang membahagiakan, kata orang itu membantu
oprasi. Surat-surat perpisahan yang pernah kusiapkan kini telah tersimpan rapih
dalam almari bukuku. Semoga memang benar aku tak perlu menggunakan surat itu.
jam 14.00
Saat ini aku sudah di rumah
sakit bersama Luna kak Imel & kak Kiki, saat ini kak Imel & kak Kiki
sedang mengurus surat oprasi sedangkan Luna membantuku bersiap-siap. “Ara aku
benar-benar gerogi ni” kataku pada Luna. “tenang Atha, I will always beside
you” kata Luna menenangkan. “tidak boleh! Kau harus sekolah dan harus
konsentrasi pada banyak hal lainnya” kataku agak geram. “ya akan ku lakukan,
otak, raga, dan jiwaku akan jauh darimu & akan sekolah dengan serius. Tapi
hatiku kan selalu bersamamu” jawab Luna tersenyum. “tapi di hari Minggu ini
biarkan aku seharian denganmu” lanjutnya. “baiklah Ara” kataku
Normal POV
“Luna keluarlah oprasinya akan
dimulai” kata kak Kiki. Lalu kak Imel memeluk Rendi sambil berbisik, sedangkan
kak Kiki hanya berbisik dan menjabat tangan Rendi. “baiklah kalau begitu oprasi
ini akan segera kami mulai, kami mengharap do`a dari kalian semua” kata dokter
sambil menutup pintu kamar. Luna begitu senang akan oprasi Rendi. Luna berdo`a
sampai lampu menunjukkan oprasi dimulai, lalu ia berkata “kak Imel apakah kakak
juga tak di beri tahu siapa pendoornya atau dimana dia?” tanyanya pada kak
Imel. “Sayangnya tidak Lun” jawabnya. “kak aku pamit, mau cari minum” kata Luna
kemudian. Kak Imel hanya mengangguk.
Di kantin RS. Banyak juga
suster yang sedang istirahat, saat ia membeli minuman ia mendengar “baik sekali
ya anak itu, meskipun ia juga berusaha tetap bertahan hidup. Tak disangka ia
justru menjadi pendonor” kata seorang suster. “tapi memang kemungkinan hidupnya
sangat rendah, mungkin ia takkan bisa bertahan setelah oprasi selesai” kata
seorang lainnya. “maaf apa suster sedang membicarakan pendonor Rendi?” Tanya
Luna. “meskipun benar tapi kamu tak boleh bilang” jawabnya. Lunapun berlalu.
Di Depan Kamar Rendi
“Luna mengapa mukamu muram?”
Tanya kak Kiki. “tadi di kantin ada yang membicarakan pendonor Rendi, tapi
mereka tak mau bicara” adunya. “ya sudahlah, apa nanti malam kau pulang tidak?”
katanya. “kurasa tidak, aku ingin menemani kak Imel” jawab Luna. “eh Luna sudah
kembali” ucap kak Imel. “iya kak, kakak dari kamar mandi ya” kata Luna. “iya,
Luna kamu bisa cari tahu pasien kamar ini. Ku dengar ini pendonor Rendi. Tapi
besok pagi saja” kata kak Imel. Luna pun menggangguk sambil menerima kertas
kecil bertuliskan “ruang VIP no. 03”.
“Luna, Imel, sorry ada jadwal
kuliah, besok gue balik pagi - pagi. Ok?” ucap kak Kiki. “yaudah Ki makasih”
jawab kak Imel. Luna hanya mengangguk. “kak, apa kakak tak pernah takut akan
hidup sendirian dulu?” Tanya Luna pada kak Imel. “pertama kali kakak tahu
penyakit Rendi, Rendi sudah berkata akan berusaha. Sebenarnya ia sangat takut
mati, sangat takut meninggalkanku. Tapi tekatnya membuatku malu memikirkan
hidupku kelak”jawab kak Imel. “kak Imel aku lebih dari mencintainya, aku
mengaguminya” kata Luna. “aku juga” tambah kak Imel.
Setelah 8 jam oprasi selesai,
namun Rendi butuh serangkaian perawatan. Apalagi dokter berkata mungkin 24 jam
lagi ia baru sadar. Namun satu hal yang sangat mengembirakan bahwa oprasi
berhasil dengan baik. Tentang sang pendonorpun masih misteri, dokter enggan
bicara, namun dokter berkata sang pendonor kini dalam masa kritis, bahkan entah
dapat bertahan atau tidak.
Minggu jam 06.00. Luna POV
Seusai kak Kiki datang, aku
menjalankan tugas dari kak Imel ruang VIP no. 03 tujuanku. Kak Imel kawatir
bahwa si pendonor adalah temanku, ia menyuruhku menyamar dengan jaket tebal,
topi dan kaca mata. Satu persatu kamar VIP kutelusuri, no 03 terlihat paling
sepi. Aku mengendap – endap masuk dan melihat gadis kecil membawa boneka
beruang. Aku bukannya tak kenal gadis itu. “Fayrica” gumamku pelan ingin
memastikan. “oh kak Luna, itu kakak. Kakak terlihat aneh dengan dandanan itu.
Hihi” ucapnya lugu. “jangan difikirkan, Fay apa ini kamar kakakmu?” tanyaku.
“iya dulu, tapi sekarang tidak. Kakak sudah tidak disini. Kami sekeluarga akan
pindah ke Amerika. Sangat mendadak karena bisnis papa” jawabnya. “benarkah, aku
sedang sibuk. Titip salam saja untuk Alvin” kataku.
“kak, bagaimana kak Alvin
menurut kakak?” tanyanya. “Alvin? Dia itu sangat baik, dia ramah, ceria,
bertanggung jawab. Dia sangat menyayangiku, dia juga selalu menjagaku. Tapi aku
hanya bisa menganggap ia kakak, tak lebih” kataku. “kak aku harus segera pergi,
ini alamat kami di Amerika. Mungkin kakak bisa berkunjung. Selamat tinggal”
ucap Fayrica seraya berlari. Akupun kembali ke tempat Rendi.
“kak Imel, aku rasa kakak
salah info. Kamar 03 itu kamar temanku yang baru keluar hari ini” kataku pada
kak Imel. “benarkah..? yasudahlah pasti kita akan tahu suatu hari nanti”ujar
kak Imel. “kak Kiki, apa ibu tidak datang?” tanyaku. “tidak Lun, mereka akan
datang nanti sore” jawab kak Kiki sambil memainkan ponselnya. “sudah agak siang
begini apa Rendi belum datang?” tanyaku. “belum Lun, dokter saja masih berjaga
di dalam” jawab kak Imel.
Clakk.. (pintu dibuka)
“dokter bagaimana?” Tanya kak
Imel. “sekarang Rendi sudah sadar, kondisinya masih beum pulih benar. Tapi ia
makin membaik. Kalau ingin menjenguk juga sekarang bisa” terang dokter sambil tersenyum
gembira. Aku, Kak Imel dan kak Kiki segera masuk. “kakak, Luna, kak Kiki.. apa
yang terjasi kak?” Tanya Rendi dengan wajah yang masih pucat. “Rendi, oprasimu
berhasil… kamu akan sembuh total!” kata kak Imel sambil menitihkan air mata.
“Ren, kamu membaik dengan cepat, tak lama lagi kamu boleh pulang. Kamu hebat,
sangat hebat” kata kak Kiki. Aku tak mampu berkata apa-apa aku terus menggengam
tangan dinginnya. “kakak, siapa pendonorku?” Tanya Rendi tiba-tiba. “biar aku
tanyakan ke dokter dengan kakakmu” kata kak Kiki.
“Luna, sebelum aku siuman aku
bertemu seseorang, dia memberiku sebuah kertas putih pucat bertulis “terima
kasih” lalu berlari dan menghiang. Ditempat dia menghilang aku melihatmu datang
diantar seorang perempuan berambut coklat. Kau berlari ke arahku dan aku
terbangun. Saat sadar aku seperti mengenalnya meski melihatnya hanya dari
belakang. Tapi aku lupa.” Jelasnya padaku. “mungkin dia orang yang berhutang
budi padamu, atau kau telah membuatnya sangat bahagia. Tapi mungkin juga itu
mimpi biasa” kataku. “tapi aku bersyukur melihatmu nyata. Bukan ilusi. Aku
ingin waktu berhenti saat ini” katanya. Dan aku hanya tertawa mengejek
tingkahnya.
“Ren, aku rasa kau benar,
Alvin memang sakit, kemarin dia dirawat di RS ini juga” kataku mulai bicara. Kulihat
raut muka Rendi agak kaget tapi kemudian ia berkata “benarkah, apa kau sudah
mengunjunginya?”. Aku menggelengkan kepala dan berkata “hari ini ia sudah
berangkat ke AS bersama seluruh keluarganya”. “benarkah mendadak sekali. Luna
besok hari Senin kan, kau harus istirahat dan belajar” katanya. “saat ibu
menjenguk nanti, beliau akan membawa perlengkapan sekolahku besok, dan kakak
yang akan mengantarku ke sekolah” jawabku. “Luna bawa aku ke ruang dokter Davit
dengan kursi roda itu, tapi pamitlah pada kakak kalau kita mencari udara segar
ya, kau mau kan?” pintanya. “baiklah, baiklah aku akan menelpon kak Imel”
ucapku.
Normal POV
“Rendi, apa yang akan kau
lakukan?” Tanya Luna. “Dokter Davit adalah dokter si pendonor misterius, kalau
bertanya pada Dokter Iksan aku yakin ia akan diam saja. Dokter Davit pernah
bilang kalau ia akan memberiku surat dari pendonor misterius” jelas Rendi.
“ternyata begitu, aku jadi semakin penasaran” kata Luna.
“dokter Davit, boleh aku
masuk, aku Rendi” ucap rendi di depan pintu. “silahkan Ren” jawabnya. “dokter,
aku ingin menagih janji, dokter bilang ada surat dari pendonor itu untukku”
kata Rendi to the point. “ternyata kau masih ingat, aku berharap kau lupa dan
terus berdo`a untuk pendonormu. Huft… baru beberapa hari saja dia berubah, anak
itu membuka matanya dan sangat takjup dengan apa yang bisa dilihatnya. Dia
pasti sangat senang melihatmu sumbuh” katanya denggan nada pasrah. “dokter aku
tidak mengerti apa yang kau ucapkan” kata Rendi geram. “Ren, tenanglah” ucap
Luna.”maaf bicaraku berbelit-belit ya..? maafkan aku. Ini suratnya, setelah ini
jangan pernah cari aku untuk menanyakannya”ucap dokter Davit. Usai mengambil
surat itu Rendi keluar dengan raut muka masam, Rendi mengajak Luna ke taman
belakang rumah sakit.
“Rendi, tersenyumlah. Liat
mukamu seperti kakek umur 70an.. haha! Biar kubacakan surat itu” bujuk Luna.
Rendi pun menyerahkan surat itu.
Jum`at 12 Oktober 2005,
pukul 08.00, RS Berlian
ini
pertama kalinya aku merasa sangat berguna untuk orang lain, sebelumnya tak
pernah ku berikan sesuatu yang berharga untuk orang lain. Bahkan juga aku tak
sempat member apapun pada orang yang kucintai. Sebenanya aku tak pernah meminta
terima kasih darimu, karena justru akulah yang ingin berterima kasih. Kalau kau
ingin tahu siapa aku, kurasa tak perlu. Tapi aku ingin kau tahu satu nama
“Natasya Ella Pertiwi” atau Ella. Dialah orang yang telah merubah hidupku
dengan cara yang sangat singkat, tapi juga sangat berhasil. Bila ingin
berterima kasih, bila ingin berdo`a untuk apa yang telah kuberikan padamu.
Gantilah namaku yang tak kau ketahui dengan namanya, nama Tasya.
Seorang
anak yang telah
Menemukan
arti hidupnya
NVA
<3 PEN
“luar biasa misterius, huft...
ini akan jadi sulit untuk diteruskan. Tapi bukan berarti aku tak mau
menyelidiki ini Ren” kata Luna. “iya aku tahu, kita akan teruskan ini. Tapi
tidak sekarang 1 bulan lagi, setelah aku sembuh dan setelah ujian. Ayo kita cari
diam-diam” kata Rendi. “apakah kau telah puas dengan surat ini? Atau
jangan-jangan kau kenal Ella?!” Tanya Luna. “puas? Tidak, tapi aku senang
dengan sifat orang ini. Dan tentang Tasya aku juga tidak mengenalnya. Kau
jangan jealous begitu, liat mukamu lucu” goda Rendi. “ah.. sudahlah aku tidak
peduli, ayo kita kembali” ucap Luna ketus sambil mendorong kursi roda Rendi.
Sedangkan Rendi terus menahan tawa.
Di lorong mereka bertemu orang
tua Luna dan beberapa teman yang menjenguk. Merekapun kembali bersama-sama.
“astaga, kenapa baru tadi pagi ada yang memberitahuku ya..?” omel Farel. “iya,
siapa yang bertanggung jawab?” tambah Sandra. “udahlah guys, kami bawa
oleh-oleh” kata Lia bergantian dengan Citra. “makasih kalian semua, om sama
tante juga makasih udah dateng” kata Rendi. “sama-sama Ren, kami memang pengen
dateng kok” jawab Ibu Luna. “oh ya, uda pada tahu belom, Alvin pindah ke AS?”
Tanya Rakka. “udah kok, kami udah tahu” jawab Luna.
“kapan kiranya kamu bisa
pulang?” Tanya ayah Luna. “menurut perkiraan dokter minimal 1 minggu lagi, dan
syukurlah itu berarti aku bisa ikut ujian” jawab Rendi. “wah.. Ren kalau begitu
gimana kalau tiap hari kita mampir buat belajar bareng di sini!” usul Rakka.
“boleh juga tuch, kita sepatu!” kata Farel. “hah..?? sepatu..?? maksudnya?”
Tanya Lia. “iya sepatu, sepakat setuju” jawab Farel. “ada-ada aja lu Rel”
kata Rendi. “ohh.. yaiyalah Farel, tak ada duanya ni” katanya sambil menunjuk
diri sendiri.
Skip time
Kegembiraan diantara mereka
semakin indah tiap harinya, dan kepergian Alvin jadi tak terasa. Sebaliknya
justru mereka tak menyadari kemisteriusan dan mendadaknya kepergian Alvin,
padahal sampai detik ini pun tak ada kabar sama sekali darinya. Hanya terkadang
Rendi ingat terakhir kali ia bertemu Alvin. Bahkan kini setelah ujian selesai
yang teringat oleh Luna hanya si pendonor misterius.
Hari ini tepat 1 bulan, kini
Rendi dan Luna sedang ada di RS berlian untuk mencari Tasya. “Permisi sus, kami
ingin tahu apakah ada pasien bernama Natasya Ella Pertiwi, kami hendak
menjenguknya” Tanya Rendi. “tunggu sebentar akan kami periksa” jawabnya. “kapan
kalian mendengarnya sakit, ia meninggal di RS ini sekitar 1 bulanan lalu. Tapi
yang ku dengar ia disemayamkan di TPU Sekar Putih” kata suster tersebut.
“terima kasih, kami akan pergi kesana” jawab Luna. “ini semakin membingungkan”
kata Luna seraya keluar dari RS. “menurutku kita harus mencari alamat keluarga Ella,
si pendonor pastilah teman baik Ella” ujar Rendi. “Tanya saja pada suster tadi”
kata Luna. “apa kau lupa, kita tadi mengaku sebagai teman Tasya, logikanya mana
mungkin kita tak tahu rumahnya” jelas Rendi. “oh astaga aku lupa” jawab Luna
sambil menepuk dahinya.
TPU Sekar Putih
“apa kita akan menggelilingi
TPU ini” Tanya Luna. “tentu tidak, itu kan makamnya” kata Rendi. Setelah sampai
mereka berdo`a di sana. Ternyata orang tua Ella, dan mereka mengizinkan Luna
dan Rendi berkunjung ke rumah Ella.
apa yang akan terjadi di rumah Ella, dan
siapa si pendonor misterius, nantikan With You Always 5…
bakal Lanjooot…
Langganan:
Postingan (Atom)

