Kamis, 17 Mei 2012

With You Always part 4


 With You Always 4


Alvin tersenyum puas dalam kamarnya. Berkali-kali ia menghela nafas sambil menghadap laptopnya, ratusan kata telah di ketiknya, sebagai anak yang menggemari teknologi Alvin bahkan memiliki softwhere buatannya sendiri, dan kini ia sedang menggunakannya. Meski Tasya tlah tiada, tapi bahkan ia lebih memilih Tasya di banding Luna, pujaan hatinya sendiri. Satu kata yang terucap darinya hanya “Rendi, lihat saja apa yang akan terjadi! Kau akan terkejut”
Pada malam harinya terdengar adu pendapat dari kamar Alvin, baik Alvin, papa, mama bahkan adiknya saling berpendapat. Alvin selalu sibuk memperlihatkan apa yang ada dalam laptopnya, suaranya parau, terlihat memaksakan diri namun tetap focus. Bahkan kedua orang tua Alvin binggung harus berkata apa setiap Alvin bicara.
Jum’at, 15.00
Rendi POV
“suster, benarkah ada pendonor yang cocok untukku” Tanya Rendi was-was. “Rendi ya? Sudah ada pendonor minta besok segera oprasi, tapi harus ada keluarga, pendamping juga boleh untuk mengisi formulir ini” jawabnya ramah. “siapa sus yang sebaik itu mau menolongku” tanyaku. “dia minta namanya dirahasiakan, dia juga tak mau wajahnya dilihat siapapun. “jadi dia masih hidup? Apa dia tak meminta imbalan? Atau apakah dia menggenalku” tanyaku lagi. “dia akan jelaskan semuanya setelah kau sadar usai oprasi dengan surat. Dia sedang kritis sekarang. Dan dia iklas tanpa dibayar”. Aku hanya diam, dalam hatiku senang namun binggung. Terkadang seperti kulihat sepasang mata mengawasiku. Segeralah aku pulang.
Sore ini jam 7 malam aku telah menceritakan semuanya pada Luna, perasaannya begitu campur aduk, namun akhirnya dia memaafkanku setelah 4 jam. Kini aku sedang bertelepon dengannya, sedangkan kakakku pergi untuk administrasi dll. Meskipun begitu aku masih bertanya-tanya “siapa orang sebaik itu” yang rela berkorban demi aku. Namun hingga kini aku mencoba memikirkan semua hal yang membahagiakan, kata orang itu membantu oprasi. Surat-surat perpisahan yang pernah kusiapkan kini telah tersimpan rapih dalam almari bukuku. Semoga memang benar aku tak perlu menggunakan surat itu.
jam 14.00
Saat ini aku sudah di rumah sakit bersama Luna kak Imel & kak Kiki, saat ini kak Imel & kak Kiki sedang mengurus surat oprasi sedangkan Luna membantuku bersiap-siap. “Ara aku benar-benar gerogi ni” kataku pada Luna. “tenang Atha, I will always beside you” kata Luna menenangkan. “tidak boleh! Kau harus sekolah dan harus konsentrasi pada banyak hal lainnya” kataku agak geram. “ya akan ku lakukan, otak, raga, dan jiwaku akan jauh darimu & akan sekolah dengan serius. Tapi hatiku kan selalu bersamamu” jawab Luna tersenyum. “tapi di hari Minggu ini biarkan aku seharian denganmu” lanjutnya. “baiklah Ara” kataku
Normal POV
“Luna keluarlah oprasinya akan dimulai” kata kak Kiki. Lalu kak Imel memeluk Rendi sambil berbisik, sedangkan kak Kiki hanya berbisik dan menjabat tangan Rendi. “baiklah kalau begitu oprasi ini akan segera kami mulai, kami mengharap do`a dari kalian semua” kata dokter sambil menutup pintu kamar. Luna begitu senang akan oprasi Rendi. Luna berdo`a sampai lampu menunjukkan oprasi dimulai, lalu ia berkata “kak Imel apakah kakak juga tak di beri tahu siapa pendoornya atau dimana dia?” tanyanya pada kak Imel. “Sayangnya tidak Lun” jawabnya. “kak aku pamit, mau cari minum” kata Luna kemudian. Kak Imel hanya mengangguk.
Di kantin RS. Banyak juga suster yang sedang istirahat, saat ia membeli minuman ia mendengar “baik sekali ya anak itu, meskipun ia juga berusaha tetap bertahan hidup. Tak disangka ia justru menjadi pendonor” kata seorang suster. “tapi memang kemungkinan hidupnya sangat rendah, mungkin ia takkan bisa bertahan setelah oprasi selesai” kata seorang lainnya. “maaf apa suster sedang membicarakan pendonor Rendi?” Tanya Luna. “meskipun benar tapi kamu tak boleh bilang” jawabnya. Lunapun berlalu.
Di Depan Kamar Rendi
“Luna mengapa mukamu muram?” Tanya kak Kiki. “tadi di kantin ada yang membicarakan pendonor Rendi, tapi mereka tak mau bicara” adunya. “ya sudahlah, apa nanti malam kau pulang tidak?” katanya. “kurasa tidak, aku ingin menemani kak Imel” jawab Luna. “eh Luna sudah kembali” ucap kak Imel. “iya kak, kakak dari kamar mandi ya” kata Luna. “iya, Luna kamu bisa cari tahu pasien kamar ini. Ku dengar ini pendonor Rendi. Tapi besok pagi saja” kata kak Imel. Luna pun menggangguk sambil menerima kertas kecil bertuliskan “ruang VIP no. 03”.
“Luna, Imel, sorry ada jadwal kuliah, besok gue balik pagi - pagi. Ok?” ucap kak Kiki. “yaudah Ki makasih” jawab kak Imel. Luna hanya mengangguk. “kak, apa kakak tak pernah takut akan hidup sendirian dulu?” Tanya Luna pada kak Imel. “pertama kali kakak tahu penyakit Rendi, Rendi sudah berkata akan berusaha. Sebenarnya ia sangat takut mati, sangat takut meninggalkanku. Tapi tekatnya membuatku malu memikirkan hidupku kelak”jawab kak Imel. “kak Imel aku lebih dari mencintainya, aku mengaguminya” kata Luna. “aku juga” tambah kak Imel.
Setelah 8 jam oprasi selesai, namun Rendi butuh serangkaian perawatan. Apalagi dokter berkata mungkin 24 jam lagi ia baru sadar. Namun satu hal yang sangat mengembirakan bahwa oprasi berhasil dengan baik. Tentang sang pendonorpun masih misteri, dokter enggan bicara, namun dokter berkata sang pendonor kini dalam masa kritis, bahkan entah dapat bertahan atau tidak.
Minggu jam 06.00. Luna POV
Seusai kak Kiki datang, aku menjalankan tugas dari kak Imel ruang VIP no. 03 tujuanku. Kak Imel kawatir bahwa si pendonor adalah temanku, ia menyuruhku menyamar dengan jaket tebal, topi dan kaca mata. Satu persatu kamar VIP kutelusuri, no 03 terlihat paling sepi. Aku mengendap – endap masuk dan melihat gadis kecil membawa boneka beruang. Aku bukannya tak kenal gadis itu. “Fayrica” gumamku pelan ingin memastikan. “oh kak Luna, itu kakak. Kakak terlihat aneh dengan dandanan itu. Hihi” ucapnya lugu. “jangan difikirkan, Fay apa ini kamar kakakmu?” tanyaku. “iya dulu, tapi sekarang tidak. Kakak sudah tidak disini. Kami sekeluarga akan pindah ke Amerika. Sangat mendadak karena bisnis papa” jawabnya. “benarkah, aku sedang sibuk. Titip salam saja untuk Alvin” kataku.
“kak, bagaimana kak Alvin menurut kakak?” tanyanya. “Alvin? Dia itu sangat baik, dia ramah, ceria, bertanggung jawab. Dia sangat menyayangiku, dia juga selalu menjagaku. Tapi aku hanya bisa menganggap ia kakak, tak lebih” kataku. “kak aku harus segera pergi, ini alamat kami di Amerika. Mungkin kakak bisa berkunjung. Selamat tinggal” ucap Fayrica seraya berlari. Akupun kembali ke tempat Rendi.
“kak Imel, aku rasa kakak salah info. Kamar 03 itu kamar temanku yang baru keluar hari ini” kataku pada kak Imel. “benarkah..? yasudahlah pasti kita akan tahu suatu hari nanti”ujar kak Imel. “kak Kiki, apa ibu tidak datang?” tanyaku. “tidak Lun, mereka akan datang nanti sore” jawab kak Kiki sambil memainkan ponselnya. “sudah agak siang begini apa Rendi belum datang?” tanyaku. “belum Lun, dokter saja masih berjaga di dalam” jawab kak Imel.
Clakk.. (pintu dibuka)
“dokter bagaimana?” Tanya kak Imel. “sekarang Rendi sudah sadar, kondisinya masih beum pulih benar. Tapi ia makin membaik. Kalau ingin menjenguk juga sekarang bisa” terang dokter sambil tersenyum gembira. Aku, Kak Imel dan kak Kiki segera masuk. “kakak, Luna, kak Kiki.. apa yang terjasi kak?” Tanya Rendi dengan wajah yang masih pucat. “Rendi, oprasimu berhasil… kamu akan sembuh total!” kata kak Imel sambil menitihkan air mata. “Ren, kamu membaik dengan cepat, tak lama lagi kamu boleh pulang. Kamu hebat, sangat hebat” kata kak Kiki. Aku tak mampu berkata apa-apa aku terus menggengam tangan dinginnya. “kakak, siapa pendonorku?” Tanya Rendi tiba-tiba. “biar aku tanyakan ke dokter dengan kakakmu” kata kak Kiki.
“Luna, sebelum aku siuman aku bertemu seseorang, dia memberiku sebuah kertas putih pucat bertulis “terima kasih” lalu berlari dan menghiang. Ditempat dia menghilang aku melihatmu datang diantar seorang perempuan berambut coklat. Kau berlari ke arahku dan aku terbangun. Saat sadar aku seperti mengenalnya meski melihatnya hanya dari belakang. Tapi aku lupa.” Jelasnya padaku. “mungkin dia orang yang berhutang budi padamu, atau kau telah membuatnya sangat bahagia. Tapi mungkin juga itu mimpi biasa” kataku. “tapi aku bersyukur melihatmu nyata. Bukan ilusi. Aku ingin waktu berhenti saat ini” katanya. Dan aku hanya tertawa mengejek tingkahnya.
“Ren, aku rasa kau benar, Alvin memang sakit, kemarin dia dirawat di RS ini juga” kataku mulai bicara. Kulihat raut muka Rendi agak kaget tapi kemudian ia berkata “benarkah, apa kau sudah mengunjunginya?”. Aku menggelengkan kepala dan berkata “hari ini ia sudah berangkat ke AS bersama seluruh keluarganya”. “benarkah mendadak sekali. Luna besok hari Senin kan, kau harus istirahat dan belajar” katanya. “saat ibu menjenguk nanti, beliau akan membawa perlengkapan sekolahku besok, dan kakak yang akan mengantarku ke sekolah” jawabku. “Luna bawa aku ke ruang dokter Davit dengan kursi roda itu, tapi pamitlah pada kakak kalau kita mencari udara segar ya, kau mau kan?” pintanya. “baiklah, baiklah aku akan menelpon kak Imel” ucapku.
Normal POV
“Rendi, apa yang akan kau lakukan?” Tanya Luna. “Dokter Davit adalah dokter si pendonor misterius, kalau bertanya pada Dokter Iksan aku yakin ia akan diam saja. Dokter Davit pernah bilang kalau ia akan memberiku surat dari pendonor misterius” jelas Rendi. “ternyata begitu, aku jadi semakin penasaran” kata Luna.
“dokter Davit, boleh aku masuk, aku Rendi” ucap rendi di depan pintu. “silahkan Ren” jawabnya. “dokter, aku ingin menagih janji, dokter bilang ada surat dari pendonor itu untukku” kata Rendi to the point. “ternyata kau masih ingat, aku berharap kau lupa dan terus berdo`a untuk pendonormu. Huft… baru beberapa hari saja dia berubah, anak itu membuka matanya dan sangat takjup dengan apa yang bisa dilihatnya. Dia pasti sangat senang melihatmu sumbuh” katanya denggan nada pasrah. “dokter aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan” kata Rendi geram. “Ren, tenanglah” ucap Luna.”maaf bicaraku berbelit-belit ya..? maafkan aku. Ini suratnya, setelah ini jangan pernah cari aku untuk menanyakannya”ucap dokter Davit. Usai mengambil surat itu Rendi keluar dengan raut muka masam, Rendi mengajak Luna ke taman belakang rumah sakit.
“Rendi, tersenyumlah. Liat mukamu seperti kakek umur 70an.. haha! Biar kubacakan surat itu” bujuk Luna. Rendi pun menyerahkan surat itu.
Jum`at 12 Oktober 2005,
pukul 08.00, RS Berlian
        ini pertama kalinya aku merasa sangat berguna untuk orang lain, sebelumnya tak pernah ku berikan sesuatu yang berharga untuk orang lain. Bahkan juga aku tak sempat member apapun pada orang yang kucintai. Sebenanya aku tak pernah meminta terima kasih darimu, karena justru akulah yang ingin berterima kasih. Kalau kau ingin tahu siapa aku, kurasa tak perlu. Tapi aku ingin kau tahu satu nama “Natasya Ella Pertiwi” atau Ella. Dialah orang yang telah merubah hidupku dengan cara yang sangat singkat, tapi juga sangat berhasil. Bila ingin berterima kasih, bila ingin berdo`a untuk apa yang telah kuberikan padamu. Gantilah namaku yang tak kau ketahui dengan namanya, nama Tasya.
Seorang anak yang telah
Menemukan arti hidupnya
NVA <3 PEN
“luar biasa misterius, huft... ini akan jadi sulit untuk diteruskan. Tapi bukan berarti aku tak mau menyelidiki ini Ren” kata Luna. “iya aku tahu, kita akan teruskan ini. Tapi tidak sekarang 1 bulan lagi, setelah aku sembuh dan setelah ujian. Ayo kita cari diam-diam” kata Rendi. “apakah kau telah puas dengan surat ini? Atau jangan-jangan kau kenal Ella?!” Tanya Luna. “puas? Tidak, tapi aku senang dengan sifat orang ini. Dan tentang Tasya aku juga tidak mengenalnya. Kau jangan jealous begitu, liat mukamu lucu” goda Rendi. “ah.. sudahlah aku tidak peduli, ayo kita kembali” ucap Luna ketus sambil mendorong kursi roda Rendi. Sedangkan Rendi terus menahan tawa.
Di lorong mereka bertemu orang tua Luna dan beberapa teman yang menjenguk. Merekapun kembali bersama-sama. “astaga, kenapa baru tadi pagi ada yang memberitahuku ya..?” omel Farel. “iya, siapa yang bertanggung jawab?” tambah Sandra. “udahlah guys, kami bawa oleh-oleh” kata Lia bergantian dengan Citra. “makasih kalian semua, om sama tante juga makasih udah dateng” kata Rendi. “sama-sama Ren, kami memang pengen dateng kok” jawab Ibu Luna. “oh ya, uda pada tahu belom, Alvin pindah ke AS?” Tanya Rakka. “udah kok, kami udah tahu” jawab Luna.
“kapan kiranya kamu bisa pulang?” Tanya ayah Luna. “menurut perkiraan dokter minimal 1 minggu lagi, dan syukurlah itu berarti aku bisa ikut ujian” jawab Rendi. “wah.. Ren kalau begitu gimana kalau tiap hari kita mampir buat belajar bareng di sini!” usul Rakka. “boleh juga tuch, kita sepatu!” kata Farel. “hah..?? sepatu..?? maksudnya?” Tanya Lia. “iya sepatu, sepakat setuju” jawab Farel. “ada-ada aja lu Rel” kata Rendi. “ohh.. yaiyalah Farel, tak ada duanya ni” katanya sambil menunjuk diri sendiri.
Skip time
Kegembiraan diantara mereka semakin indah tiap harinya, dan kepergian Alvin jadi tak terasa. Sebaliknya justru mereka tak menyadari kemisteriusan dan mendadaknya kepergian Alvin, padahal sampai detik ini pun tak ada kabar sama sekali darinya. Hanya terkadang Rendi ingat terakhir kali ia bertemu Alvin. Bahkan kini setelah ujian selesai yang teringat oleh Luna hanya si pendonor misterius.
Hari ini tepat 1 bulan, kini Rendi dan Luna sedang ada di RS berlian untuk mencari Tasya. “Permisi sus, kami ingin tahu apakah ada pasien bernama Natasya Ella Pertiwi, kami hendak menjenguknya” Tanya Rendi. “tunggu sebentar akan kami periksa” jawabnya. “kapan kalian mendengarnya sakit, ia meninggal di RS ini sekitar 1 bulanan lalu. Tapi yang ku dengar ia disemayamkan di TPU Sekar Putih” kata suster tersebut. “terima kasih, kami akan pergi kesana” jawab Luna. “ini semakin membingungkan” kata Luna seraya keluar dari RS. “menurutku kita harus mencari alamat keluarga Ella, si pendonor pastilah teman baik Ella” ujar Rendi. “Tanya saja pada suster tadi” kata Luna. “apa kau lupa, kita tadi mengaku sebagai teman Tasya, logikanya mana mungkin kita tak tahu rumahnya” jelas Rendi. “oh astaga aku lupa” jawab Luna sambil menepuk dahinya.
TPU Sekar Putih
“apa kita akan menggelilingi TPU ini” Tanya Luna. “tentu tidak, itu kan makamnya” kata Rendi. Setelah sampai mereka berdo`a di sana. Ternyata orang tua Ella, dan mereka mengizinkan Luna dan Rendi berkunjung ke rumah Ella.
apa yang akan terjadi di rumah Ella, dan siapa si pendonor misterius, nantikan With You Always 5
bakal Lanjooot

Tidak ada komentar:

Posting Komentar