Rabu, 23 Mei 2012

Secret Hunter

Secret Hunter

            Angin berhembus kencang, saat ini aku sedang berdo`a di makam orang tuaku dengan Jae Joong kakakku. “ JJ, aku selesai, ayo kembali” ajakku. “kalau mau masih ada waktu 1 menit untuk berlama-lama di sini” katanya. Aku hanya berjalan ke mobil sebagai jawaban “tak lucu”. Mobil biru tua kakakku melesat melewati jalan sepi dan menerbangkan daun-daun kering di musim gugur ini. Sekejap kami telah sampai, di tempat yang jadi rumah ke duaku ini. Disinilah aku home schooling, teman-temanku adalah agen rahasia, beberapa FBI, paspampres, professor, shooting, dan banyak lagi. “hey, Jae Shik lihat game buatanku ini” kata orang ke-2 termuda di sini setelah aku, ahli computer Jang Hae Min. “kelihatanya bagus, bagaimana cara mainnya?” tanyaku antusias. Dan inilah kehidupanku sebagai SECRET HUNTER.
“kalian jangan main terus, ayo latian menembak lagi” ajak lady meirrin. “aku sedang bertugas lady” jawab Hae Min, “dan ini bukan jadwal latihanku” tambahku. Lady meirrin tak menjawab dan pergi ke tempat lat.tembak. “kalian mau jus” kata kak Shin Jung. “tentu” jawabku. “Jae Shik, kakakmu mana?” tanyanya. “kakak sedang latihan Tembak” jawabku. “baiklah kalau begitu, sampai jumpa” kata kak Shin Jung. Aku hanya melambaikan tangan.
“perhatian, tim Rose akan segera sampai” suara kapten Jang mendenggung di semua ruang, kami segera menempati posisi. Kali ini tugasku hanya memastikan keamanan, komandan memang sering melarangku diberi tugas lapangan, dia selalu bilang “kau masih kecil”. Akupun mulai bekerja, “lotus pada rose, lotus pada rose kirimkan signal kalian”. “baik” jawab mereka, tak lama signal mereka sampai di komputerku. “masih ada 3 orang penyusup” kataku pada tim rose dan ke dua kaptenku. “kami kekurangan senjata” kata salah seorang tim rose.
“Jae Joong, Shin Jung bantu mereka” kata kapten Han pada kami. Tepat 15 menit bantuan pergi, radarku tak melihat penyusup lagi. “okey, kapten kita berhasil!!” kataku keras. 10 menit berikutnya mereka sampai di markas. Kami melanjutkan aktivitas hingga waktunya pulang. Sekarang jam Sembilan malam. Mobil kakakku melesat kencang ke rumah yang sepi dan gelap, tentu saja lampunya belum dinyalakan.
“hey jangan sentuh aku!!” teriak seseorang. “kau saja” kata kakakku lembut, aku mengerti maksudnya. Aku segera turun dari mobil dan berlari ke balkon. Benar saja 3 orang preman berbadan besar sedang mengikat nona muda, dan 2 yang lain sedang menggoda nona itu. “seenaknya saja kalian masuk ke rumah orang dan berbuat kotor” kataku sambil berjalan mendekat. “hey gadis kecil, kalau kau mau, tunggu sampai kami selesai dengan nona ini atau sekarang juga boleh” kata salah satu dari mereka. “hmm… kita dapat 2 hari ini” kata seorang lagi. “2 tinju,2 tendang. Akan kupastikan” kataku. “gadis kecil pergilah, selamatkan dirimu” kata nona muda itu. Lalu terdenganr “huaa.. daak.. prangg.. teng.. dess.. prakk.. aww..” dan terakhir “meaww..”. “kucing liar” kataku.
Aku melepaskan nona itu, lalu memberinya makan dan ia mulai bercerita. “namaku Park Na Ree, aku baru sampai dari New York saat mereka menangkapku di pintu bandara, lalu mereka membawaku ke sini sampai kau datang. Siapa namamu? Dan siapa pria yang masuk tadi?” katanya. “aku Kim Jae Shik, tadi kakakku Kim Jae Joong. Dia pasti sedang mandi” jawabku.
Dia bercerita hingga larut malam tentang perusahaan ayahnya Park Kang Min, dan dia yang akan menjadi pewaris perusahaan. Jam sepuluh lebih tiga puluh menit, dia baru berpamitan pulang. Kakakku menyuruhku segera tidur karena besok tak libur. “sial. Aku lelah meladeni nona itu” keluhku. “kakak!!! Gunakan lampu otomatis pada rumah kita!!” teriakku pada kakak. “nanti saja, kalau kakak ingat” jawab kakakku seadanya.
Jum`at, pukul 5.00
“hei cepat sedikit makanya, komandan pasti melarangmu tugas lapangan lagi” perintah kakakku. “memangnya kapan komandan menyuruhku tugas lapangan, yang kuingat cuma menangkap perampok. Aku selesai, ayo berangkat” jawabku.
“5.20 kita tidak terlambat” kataku antusias. “Jae Joong, Jae Shik ayo cepat masuk, tugas dini hari” sapa kak Shin Jung sambil menarikku. “ada apa kak” tanyaku. “demo besar akan terjadi di kantor presiden, meskipun presiden tidak di tempat tapi mereka akan menyerang wapres. Komandan bilang akan ada rencana peledakan gedung. Kita akan menyamar.” Jelas kak Shin Jung. “tunggu dulu, kita?? Aku tugas lapangan” tanyaku tak percaya. “tentu saja, ayo lekas kemasi alat-alat dan berangkat” katanya semangat.
“okey, tim rose, JJ. Kalian siap” kata kapten Han Jung In pada kami. “siap” jawabku mewakili. “okey kalian bawa 2 mobil, Shin Jung, Jae Shik bawa mobil S2AD. Kalian sebagai pendemo, Jae Joong kau jadi paspampres” kata kapten Jang tegas. “mengerti!!” dan kamipun segera berangkat.
Sesampainya di sana para pendemo telah berkumpul, aku dan SJ pun mulai bergaul dengan mereka, sayangnya kami tak menemukan rencana rahasia, kebanyakan hanya ingin hak mereka dipenuhi tanpa perlu melukai siapapun. Tak lama kemudian seorang pendemo mulai berteriak. Dengan cekatan kami mengawasi gerak-gerik para pendemo. Tak ada yang mencurigakan hingga 1 jam ini, hingga seorang pendemo terlihat mengendap-endap pergi. Aku menggikutinya dengan hati-hati, pria itu memasuki mobil dan mengambil kardus dari sana. “JS pada lotus, coba lihat kandungan benda-benda di sekitarku” laporku pada Hae Min. “arah jam 3, kandungan pembuat bom. Atasi dia!” jawabnya.
Mendengar itu aku segera menyergapnya, bukanya melawan dia tersenyum padaku. Namun akhirnya dia melawan, kami bertarung cukup lama. Ku akui dia karatendo yang hebat. Aku sempat meresa aneh karena ia sama sekali tak bicara. Mataku jeli melihat topi hitamnya yang bertulis “paspampres”, dalam hati aku bertanya apa dia benci paspampres. Namun tiba-tiba ia berlari, “hey.. berhenti kau teroris” teriakku. Ternyata di balik tembok agen SJ telah menunggu. Pria itu tetap tenang dan tanpa ekspresi menggeluarkan tombol kecil, dan dia melemparnya ke tanah “diarrrr….”ledakanya tak besar namun asapnya pekat. Sadarlah aku telah terjebak. Aku menariknya yang berlari dari balik pohon menuju mobil, namun yang kudapat hanya sapu tangan hitam.
Aku dan SJ kembali ke markas, sedangkan JJ tetap berjaga di lokasi. Aku begitu terkejut melihat komandan di depan komputerku, komandan sangat jarang berada di markas. “agen JS dan SJ kalian berhasil mengamankan gedung presiden, apa ada lagi yang kalian temukan?” katanya. “komandan, aku gagal menangkapnya, tapi aku menemukan ini” kataku sambil menyerahkan sapu tangan itu, ada lambang “G” di pojoknya. “huh… sudah 10 tahun ya.. sudah dimulai” kata beliau sambil menghela nafas. “apa yang dimulai” Tanya kak Shin Jung. “akan kuberi tahu bila saatnya tiba. Sekarang tarik JJ ke markas, aku yakin tak ada yang akan terjadi” jawabnya pasti.
Orang sebaik komandan yang merawatku sejak orang tuaku tiada 10 tahun yang  lalu, apa yang ia fikirkan hingga menghela nafas seperti itu? Tanyaku dalam hati, namun mengenang 10 tahun yang lalu membuatku ingat ia sempat membahasnya membuatku agak takut mencarinya, ku pikir apa yang ditutupi komandan pasti memang tak seharusnya ku cari tahu.
Normal POV:
“perhatian semuanya, hari ini hari istimewa, komandan berbaik hati mentraktir kita semua!!” ucap kapten Han pada mic. Suara sorak senang terdengar ramai, mobil- mobil kami satu persatu meninggalkan markas.
Setelah sampai meja di penuhi oleh makanan dan minuman. Jae Shik memilih mengambil sekaleng soft drink dan pergi mencari udara segar di balkon lantai 2. “bintang malam ini banyak sekali. Ah itu rasi bintang Leo, indahnya” gumam Jae Shik. Tak terasa 2 jam lebih Jae Shik memandang bintang. (sebenarnya kebiasaan memandang bintang dan langit berjam-jam itu kebiasaan penulis hehe:D) ponsel Jae Shik berbunyi. Pesan singkat berisi “ku tunggu di mobil” membuatnya bergegas.
Di rumah:
“kakak kita dapat hadiah!” Kata Jae Shik sambil mengangkat kotak di depan pintu. “ada suratnya. Biar aku baca. Untuk Jae Shik dan kakaknya Jae Joong, aku member kalian sedikit hadiah sebagai tanda terimah kasih. Sebenarnya aku ingin memberinya secara langsung melalui surat seperti ini tidak sopan buatku, tapi aku sudah menunggu selama 2jam dan kalian belum pulang. Oh ya besok tolong telpon aku di nomer ini 08**********. Park Na Ree” bacanya.
“kak aku akan pergi ke kamar untuk membuka hadiahku” ucap Jae Shik. “Jae Shik, ku rasa kau salah mengartikan hadiah itu. Na Ree berbeda dengan Shin Jung, aku yakin kau takkan suka hadiah itu” kata Jae Joong mengingatkan. Namun Jae shik malah memasang muka sebal, ia berlari ke kamarnya. Satu menit kemudian. “iii waww, apa`an nich?” kata jae Shik keluar kamar sambil membawa bando pink berbagai model. “hwahahaha…” tawa Jae Joong meledak. “percayalah pada kakak, kakak yakin dalam kado kakak isinya dasi. Karna penasaran Jae Shik membuka kado kakaknya, dan ternyata benar beberapa dasi bermotis lucu ada di dalamnya.
Esok paginya
“Jae Shik, apa yang kau lakukan?” Tanya Jae Joong dari dapur. “sedang menelpon kak Na Ree, meski aku takkan menggunakan hadiahnya, tapi aku harus berterima kasih” ucapnya.
“halo, kak Na Ree?” katanya mulai bicara. “iya, apa ini Jae Shik?” jawabnya. “iya kak, emm… kak aku mau berterima kasih untuk hadiahnya, maaf harus lewat telpon” kata Jae Shik. “Jae Shik, kau dan kakakmu datanglah untuk makan siang di rumahku hari ini! Alamatnya akan ku kirim lewat SMS” pintanya. “baiklah kak sampai jumpa” jawabnya.
~~END~~
Bagaimana kesan Jae bersaudara dengan rumah Park Na Ree dan semua hal di dalamnya, bakal lanjut.

1 komentar:

  1. sorry kalau da nama atau kejadian yang sama.
    this is just my story

    BalasHapus